| padangexpo.com (Tanah Datar)
Dalam kebudayaan masyarakat Minangkabau dikenal tiga macam jenis ukiran yang terinspirasi dari alam dan perbedaannya didasarkan pada inspirasi dan motif dari ukiran. Pertama ukiran yang terinspirasi oleh nama benda yang ditemui dalam keseharian masyarakat Minangkabau, seperti Ampiang Taserak dan Limpapeh. Kedua, ukiran yang terinspirasi dari nama hewan seperti Itiak Pulang Patang, Ruso balari dalam Ransang dan Tupai Managun. Ketiga adalah ukiran yang terinspirasi dari tumbuh-tumbuhan seperti Aka Duo Gagang, Aka Barayun, dan Kaluak Paku Kacang Balimbiang.
Untuk ukiran Kaluak Paku Kacang Balimbiang yang terdapat di istano Basa Pagaruyung. Ukiran ini terinspirasi dari Tumbuhan paku atau pakis sudah menjadi makanan sehari-hari bagi orang Minangkabau, kaluak paku atau relung pakis adalah bagian dari tanaman pakis yang masih muda yang bagian ujungnya melingkar padat. Motif kaluak paku dilandasi kata-kata adat berikut:
Kaluak paku kacang balimbiang — Relung pakis kacang belimbing
tampuruang lenggang-lenggangkan — tempurung lenggang-lenggangkan
baok manurun ka Saruso — bawa menurun ke Saruaso
tanam sirieh jo ureknyo– tanam sirih serta uratnya
Anak dipangku kamanakan dibimbiang — Anak dipangku kemanakan dibimbing
urang kampuang dipatenggangkan — orang kampung dipertenggangkan
tenggang nagari jan binaso — tenggang negeri jangan binasa
tenggang sarato jo adatnyo — tenggang serta adatnya
(Ramadan, Wahhyu Alga dalam makna folosofis ukiran kaluak paku kacang balimbiang)
Secara filosofis motif ukiran Kaluak Paku Kacang Balimbiang bukan hanya simbol namun juga memiliki nilai estetika (keindaan) dan menjadi nilai kebanggan tersendiri bagi mayarakat Minangkabau. Sebab dibalik bentuk dan motif ukiran Kaluak Paku Kacang Balimbiang tidak hanya mengandung nilai kebudayaan semata namun juga dapat dinikmati aspek keindahannya. Ukiran ini merupakan karya seni yang tidak anya sekedar indah namun memuat makna filofis yang arus terinternalisasi dalam keidupan masyarakat minangkabau.
Nilai keindahan pada motif ukiran Kaluak Paku Kacang Balimbiang ini sebaikinya teradaptasi secara jelas dan nyata pada diri setiap masyarakat minangkabau terutama tanggung jawab seorang laki-laki.
Di masyarakat Minangkabau laki-laki memiliki 2 fungsi, sebagai ayah dari anak-anaknya dan sebagai mamak dari kemanakannya. Ia harus membimbing dan mendidik anak dan kemenakannya sehingga menjadi orang yang berguna dan bertanggung jawab terhadap keluarga kaum dan nagari. Laki-laki di minangkabau mengemban tugas yang berat sebagai seorang Ayah untuk mendidik anak-anak nya (anak adalah anak kandung) Dipangku adalah diurus dengan prioritas utama. Anak kandung searusnya didik secara benar sesuai tuntunan syarak kitabullah agar anak memiliki pedoman untuk mereka pegang teguh. Penting memperkenalkan agama dan adat kepada anak sehingga nilai ini bisa terinternalisasi dengan baik pada diri anak. Ayah seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi anak-anaknya baik penerapan agama dan akhlak maupun contoh penerapan pemahaman adat di kehidupan bermasyarakat di minangkabau.
Secara berkamanakan di minangkabau seorang laki-laki memiliki tanggungjawab terhadap anak dari adik atau kakak perempuannya. Dalam hal ini seorang laki-laki dewasa kemenakannya harus dibimbiang diurus dengan prioritas kedua.Tanggung jawab yang diembannya bukan hanya sebatas anak dan istrinya namun lebih dari itu termasuk adik dan kakak perempuannya yang tentu sudah dengan notabene sang ipar atau sumondo beserta anak-anaknya (akan lebih khusus lagi bila anak-anaknya tersebut adalah semua perempuan). Fungsi mamak sangat penting bagi kemenakan di minangkabau, seorang anak di minangkabau biasanya mendapat teladan serta pengawasan langsung dari mamaknya, makanya kemenakan harus berupaya mematuhi mamak nya seperti mematuhi ayahnya sendiri.
Realita hari ini fungsi inilah yang harus dihidupkan kembali sehingga peran dan fungsinya masing-masing tetap berjalan dan berada pada fungsi sebenarnya secara adat. Fungsi yang mulai diabaikan oleh masyarakat minangkabau. Laki-laki yang tidak hanya bertanggungjawab secara penuh kepada anaknya namun disana ada kemenakan yang juga menjadi tanggungjawabnya. Anak dipangku kamakan di bimbiang hendaknya menjadi slogan nyata dalam kehidupan di minangkabau sehingga untuk membesarkan seorang anak diminangkabau tidak hanya kewajiban seorang ayah tapi mamak juga mempunyai andil besar.
Inilah 2 peran laki-Laki dewasa diminangkabau yang harus dengan nyata dipatuhi sehingga aturan adat yang secara berimbang yang sudah di atur secara jelas ini bisa dijalankan oleh masyarakat minangkabau agar tetap menjadi masyrajkat yg memiliki keluhuran dan memiliki jati diri berbudaya.(dody)

