Home Kab/Kota Pasaman Barat Disinyalir Akibat Limbah Pabrik Kelapa Sawit PT.Gunung Abadi, Ribuan Ikan Mati Mendadak...

Disinyalir Akibat Limbah Pabrik Kelapa Sawit PT.Gunung Abadi, Ribuan Ikan Mati Mendadak di Sungai Batang Pandan

578

Kinali, Padang Expo

Ribuan ikan mati di Sungai Batang Pandan Kampung Bancah Rambai Jorong Langgam, Nagari Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat ini cukup membuat masyarakat setempat kecewa, sebab kejadian ini sudah sering terjadi.

Kasus kematian ikan secara massal ini sudah terjadi sejak Sabtu (14/3/2020) lalu. Kematian ikan itu diduga akibat oleh limbah dari pabrik kelapa Sawit PT Gunung Sawit Abadi, ujar ujang yang didampingi Parinal selaku masyarakat setempat mengatakan kepada media ini, Jum’at (20/3/2020).

Banyaknya ikan yang mati selama ini tidak pernah menerima bantuan atas ikan mati tersebut dari pihak perusahaan. Selama Perusahaan PT.Gunung Sawit ini berdiri, hanya memberikan bantuan untuk pembangunan MCK, dan itu dialihkan pembangunannya untuk tahapan ke 2 MDA, bukan dari dana CSR. Bantuan itu adalah tanggungjawab dari perusahaan,kalau mengenai dana CSR itu lain,tandas ujang.

Sedangkan dalam sungai tersebut, bukan hanya ikan saja yang ikut punah, dampak lainnya adalah aroma dari limbah yang mengalir ke Sungai Batang Pandan tersebut sangat tidak nyaman dan membuat resah warga sekitarnya serta warna air sungai pun berubah menjadi hijau, akibatnya masyarakat setempat tidak bisa lagi memanfaatkan air Sungai Batang Pandan tersebut, seperti mencuci, mandi serta ditambah lagi ada warga yang memiliki kolam ikan akhirnya tidak bisa mengembangkan ternak ikannya, sementara Sungai Batang Pandan itu sudah terkontaminasi oleh limbah, ungkap ujang.

Selama ini, sudah berpuluh tahun secara turun temurun sungai tersebut menjadi tempatnya MCK bagi masyarakat, tapi sekarang tidak bisa dimanfaatkan. Sebab, air yang dulunya bersih sekarang berubah menjadi keruh dan berbau, karena ada saluran pipa pembuangan akhir dari Pabrik tersebut disalurkan kedalam Sungai Batang Pandan.

Salah satu warga lainnya, Parinal (48) juga mengatakan bahwa dirinya menilai PT.GSA tersebut lucu, sebab dalam setiap tahunnya mereka mengatakan memberikan ganti rugi, namun ikan yang mati di Sungai Batang Pandan tidak pernah menerima bantuan sebesar Rp10 Juta semenjak mulai beroperasinya PT.GSA hingga sekarang.

Adapun ganti rugi yang diberikan, yaitu pada tahun 2019. Namun ganti ruginya bukan ikan yang mati di Sungai Batang Pandan melainkan Batang Kinali. Padahal yang lebih terdahulu berdampak ikan di Sungai Batang Pandan.

Karena, Sungai Batang Pandan bermuara ke Sungai Batang Kinali. Seharusnya hal tersebut sama-sama diberikan ganti rugi, apabila terdapat ikan mati akibat limbah tersebut.

Namun hingga sekarang belum pernah terealisasi untuk ganti rugi tersebut ketika ikan yang ada di Sungai Batang Pandan mati.

Parinal menambahkan, ia sangat menyayangkan pihak Pemerintah khususnya Dinas Lingkungan Hidup seakan-akan cuci tangan dengan kejadian ini, selama hal ini terjadi yang dilakukan hanyalah mengambil sampel air lalu dikatakan akan di cek dilaboratorium, namun untuk hasilnya tidak pernah ada keterangan sama sekali kepada masyarakat untuk pembuktian.

Seharusnya pihak Dinas Lingkungan Hidup agar memberikan pembuktian kepada masyarat, jika ikan yang mati di Sungai Batang Pandan apakah benar-benar terindikasi oleh air dari pembuangan limbah Pabrik PT.GSA atau tidak, ujar Aprinal.

Sementara itu pihak PT.GSA melalui Humas Dani yang dihubungi melalui telp mengatakan, bahwa pihak pihak PT.GSA menyangkal bahwa telah terjadi kebocoran limbah tersebut, andaipun itu terjadi Pihak PT.GA akan melakukan penggantian ikan yang mati sebanyak Rp10 juta, ujarnya

Lebih lanjut Dani mengatakan, pihak perusahaan dalam menjalankan proses telah sesuai dengan prosesdur, ungkapnya.

Sedangkan manager PT. GSA Sukri menuturkan bahwa memang benar ada kejadian itu tepatnya sabtu (14/3/2020) lalu, namun telah diselesaikan dengan masyarakat setempat, jadi tidak ada masalah dan sudah aman, katanya.

Terpisah, Andrinal selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasaman Barat yang dihubungi wartawan, mengatakan masih menunggu hasil labor jadi belum ada hasil final, soal kebocoran atau dugan pencemaran limbah PT.GSA di Sungai Batang Pandan, kita tunggu hasil labor dulu, setelah itu baru pihak Dinas akan melakukan tindakan sesuai prosedur, ungkapnya.

Wakil ketua ll DPRD Pasbar H. Daliyus.K.S.Si. MM di Kinali mengatakan, bahwa jika benar itu ada kelalaian yang berakibat pada dampak buruk bagi Kesehatan dan Lingkungan, sebaiknya masyarakat melakukan prosedur seperti laporkan kepada Dinas Terkait, bahaso nyo dengan ‘bajanjang naik batanggo turun, artinya ikuti aturan yang ada, sehingga akan dapat penyelesaian dengan baik dan saling menguntungkan untuk semua pihak, tanpa ada yang dirugikan,ujarnya. (By.Roni)