Pasien Makin Bertambah, Pemko Bukittinggi Minta Pemprov Untuk Menambah Ruang Isolasi dan APD di RSAM

73

“ASN Pemko Yang Dalam Kondisi Hamil Akan Dirumahkan Selama 14 Hari Kedepan”

Bukittinggi, Padang Expo

Setelah rapat koordinasi dengan Forkopimda, Kepala SKPD, Pihak Rumah Sakit, Dokter Spesialis, di Aula Balaikota, Pemko Bukittinggi minta kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, untuk menambah ruang isolasi di Rumah Sakit Achmad Mochtar.

Hal ini harus diupayakan karena saat ini sudah ada sembilan pasien yang tengah diisolasi dan dilaporkan rencana akan masuk sembilan orang lagi ke RSAM Bukittinggi hari ini. Hal itu disampaikan Walikota kepada para wartawan usai rapat koordinasi,Senin (23/03).

Walikota Bukittinggi HM.Ramlan Nurmatias, SH menjelaskan, saat ini ada sembilan pasien dalam perawatan (PDP) di RSAM. Jumlah itu sudah sangat membuat ruang isolasi yang ada saat ini penuh.

“Untuk itu, kami minta pemprov menambah ruang isolasi di RSAM, karena milik provinsi. Seperti ruang paru dan ruang lainnya yang dibutuhkan. Ini sangat butuh respon cepat, karena memang rencana akan masuk 9 orang lagi. Selain itu, ruangan yang dibutuhkan juga perlu AC yang khusus dapat membunuh virus. Kita minta ini cepat direspon oleh prmprov dan kami di Pemko Bukittinggi juga akan mengupayakan hal itu sesuai aturan yang ada,”jelas Ramlan Nurmatias.

Walikota juga meminta kepada pemerintah provinsi dan pusat, untuk membantu pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga kesehatan yang menangani kasus covid 19.

“Pemko juga telah upayakan pengadaan hand sanitizer untuk umum dan diletakkan di tempat umum. Selain itu, kami juga telah meminta APD sementara ke Surabaya, kita masih tunggu itu,”kata Walikota.

Wako Ramlan juga menyampaikan, selain itu, Pemerintah Kota Bukittinggi kembali mengambil kebijakan baru untuk diterapkan di Kota Bukittinggi, dimana seluruh ASN yang dalam kondisi hamil, akan dirumahkan selama 14 hari kedepan.

Baca Juga :  Wali Kota Bukittinggi Serahkan 5 Sertifikat HGB, Hak Pakai & Tanah Wakaf

Ada 53 ASN Bukittinggi yang kini dalam kondisi hamil. Setelah mendengar keterangan dokter spesialis, diputuskan untuk merumahkan sementara waktu.

“Ternyata mereka yang sedang hamil, rentan terkena virus corona atau covid 19. Jika sang ibu positif, anaknya juga akan positif corona. Untuk itu, kami putuskan seluruh ASN yang dalam kondisi hamil, dirumahkan. Jika ada tugas yang harus dikerjakan, silahkan kerjakan di rumah,”ujar Wako Ramlan.

Wako juga meminta kepada warga Bukittinggi untuk tidak keluar rumah jika tidak diperlukan.

“Kami sudah perintahkan SK4 untuk mengimbau warga yang berkumpul malam hari di cafe atau di lokasi lain, agar segera membubarkan diri. Ini kita lakukan agar tidak tejadi penyebaran virus corona di kota kita. Lebih baik kita cegah sebelum kita terkena imbasnya. Kami mohon pengertian dari masyarakat semua,” tegas Walikota.

Sementara itu, dr. Deddy Herman Spesialis Paru di RSAM Bukittinggi menyebutkan, dimana saat ini memang ada sembilan pasien yang tengah dalam perawatan. “Dari jumlah itu, delapan diantaranya memang mulai membaik tapi satu pasien masih belum stabil.

Untuk itu, kami menghimbau kepada warga Kota Bukittinggi untuk dapat menjaga kebersihan dan kesehatan. Maksimalkan konsumsi buah berdaging merah.
“Buah berdaging merah sangat tinnggi protein, contohnya Buah Naga, Semangka, Jambu Biji, Strawbery dan lainnya. Selain itu Jaga jarak, jangan keluar rumah kalau tidak perlu. Anda di rumah saja, biar kami yang bekerja untuk kita semua,”sebut Deddy.

Terkait dengan kurangnya tenaga medis dan minimnya APK di RSAM, Deddy menyampaikan, setelah rapat dengan direktur, maka kita akan minta seluruh dokter paru dan perawatnya yang ada di berbagai rumah sakit di Sumbar untuk ditempatkan pada satu tempat yang ditunjuk sebagai rumah sakit isolasi pasien covid 19, Sehingga dokter dan tenaga medis itu bisa bekerja shif. Begitu juga dengan APK, kita sudah memesan ke Surabaya namun belum sampai ke Bukittinggi,”ujar Deddy. (fadhil/rahmi/red)

Baca Juga :  Pemko Bukittinggi Raih Penghargaan Kota Pelaksana Implementasi Elektronifikasi Transaksi Peringkat II dari BI Provinsi Sumbar