Selama Lebaran TPA Piyungan Akan Libur 2 Hari

64
TPA Piyungan

Yogyakarta, Padang Expo

TPA Piyungan yang menjadi tujuan akhir pembuangan sampah dari Kota Yogyakarta akan dilakukan penutupan terhitung mulai Minggu tanggal 24 Mei 2020 hingga Senin 25 Mei 2020 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta pun menghimbau masyarakat agar menunda pembuangan sampah ke TPS masing-masing.

Kabar tersebut diterima oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta melalui surat dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY hari ini.

“Dari surat tersebut diinformasikan bahwa sehubungan dengan hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah TPA regional Piyungan libur pada tanggal 24 dan 25 Mei 2020,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta Suyana, Selasa (19/5/2020).

Sementara pelayanan TPA Piyungan baru akan dibuka kembali pada Selasa (26/5/2020). Karena pada hari besar Idul Fitri para petugas biasanya juga merayakan Idul Fitri bersama keluarga dan baru akan masuk lagi sekitar hari tersebut.

Menanggapi hal itu, pihaknya meminta masyarakat Kota Yogyakarta untuk sementara menunda pembuangan sampah di TPS dengan melakukan penyimpanan sementara di rumah masing-masing.

“Seperti yang pernah terjadi, dalam kondisi ini sebaiknya masyarakat menyimpan sampahnya dulu dengan melakukan protokol kesehatan, ditutup menggunakan plastik sehingga tidak mudah tembus,” terangnya.

Suyana mengakui, memang pada hari Raya Idul Fitri hingga hari ke empat volume sampah di Kota Yogyakarta biasanya mengalami penurunan sehingga masih dalam kondisi normal.

“Kenaikan volume sampah justru baru akan naik biasanya di hari ke lima, namun pada saat itu petugas juga sudah mulai bekerja mengambil sampah ke kampung-kampung,” imbuhnya.

Disisi lain, Suyana menjelaskan bahwa sampah rumah tangga di Yogyakarta masih cukup rendah. Pihaknya membandingkan dengan kota lain dimana volume sampah rumah tangga bisa mencapai 60 persen, namun di Kota Yogyakarta hanya sekitar 45 persen.

Baca Juga :  Satpol PP Kota Yogyakarta, Gelar Razia Gepeng

“Secara umum perbandingan sampah rumah tangga dan non rumah tangga di kota-kota lain itu 60 persen berbanding 40 persen, di Yogyakarta masih sangat rendah hanya 45 berbanding 55 persen,” pungkasnya. (kps)