Penyalahgunaan Benzodiazepin pada Penderita Depresi

78

Depresi merupakan gangguan perasaan seseorang yang ditandai dengan efek kehilangan kegembiraan, perasaan sendu atau sedih. Banyak faktor yang dapat memicu adanya depresi, termasuk genetik dan peristiwa kehidupan seperti trauma.

Proporsi penduduk secara global dengan depresi diperkirakan 4,4% dengan kejadian pada wanita yaitu sebesar 5,1 % dibandingkan pria sebesar 3,6%. Depresi sering ditandai dengan kesedihan, kehilangan minat atau kesenangan, perasaan bersalah atau rendah diri, perasaan kelelahan, kurang konsentrasi, tidur, atau nafsu makan yang terganggu.

Pengobatan medis dan bantuan psikolog bisa menjadi upaya mengurangi gejala-gejala depresi yang mengganggu. Penggunaan obat golongan benzodiazepin pada perawatan secara farmakologis bisa dilakukan untuk jangka pendek.

Penggunaan benzodiazepin dalam jangka panjang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental ataupun fisik dan dapat memperparah gejala depresi.

Depresi adalah gangguan psikologis yang paling sering ditemukan. Depresi merupakan gangguan yang ditandai dengan kondisi emosi sedih dan muram juga terkait dengan gejala-gejalan kognitif, fisik, dan interpersonal.

Sebenarnya, depresi merupakan gejala yang wajar sebagai respon normal terhadap pengalaman hidup negatif, seperti kehilangan anggota keluarga, benda berharga atau status sosial.

Dengan demikian, depresi dapat dipandang sebagai suatu kontinum yang bergerak dari depresi normal sampai depresi klinis.

Gangguan depresi ditandai oleh kesedihan, kehilangan minat atau kesenangan, perasaan bersalah atau merasa tidak berguna, gangguan tidur atau nafsu makan, perasaan lelah dan konsentrasi yang buruk.

Depresi dapat berlangsung lama atau berulang, secara substansial dapat mengganggu kemampuan individu dalam bekerja atau kehidupan sehari-hari. Bahkan, depresi dapat menyebabkan bunuh diri.

Menurut WHO (2017), gangguan depresi dibagi menjadi dua katagori utama: 1) gangguan depresi mayor yang melibatkan gejala seperti perasaan tertekan, kehilangan minat dan gairah, dan kekurangan energi; bergantung pada jumlah dan tingkat keparahan gejala, depresi mayor dapat dikatagorikan dalam ringan, sedang, atau berat; 2) disthymia yaitu bentuk depresi ringan yang presisten atau kronis.

Baca Juga :  Napza? Narkoba? Yuk kita bahas lebih dalam!

Gejalanya serupa dengan depresi mayor, tetapi cenderung kurang intens dan bertahan lama.

Benzodiapine merupakan obat golongan psikotropika yang biasa digunakan untuk mengatasi gejala depresi seperti gangguan kecemasan dan insomnia.

Benzodiazepin telah menjadi obat depresi yang populer karena harganya yang tergolong murah. Penggunaan benzodiazepin untuk meringankan gejala depresi secara signifikan berkontribusi terhadap peningkatan kecanduan dan penyalahgunaan benzodiapine seperti penggunaan dalam jangka panjang tentu akan berakibat buruk bagi individu pemakainya sehingga benzodiazepin umumnya diresepkan untuk pengobatan jangka pendek.

Benzodiazepin banyak diresepkan dalam praktik klinik jangka pendek untuk mengatasi berbagai kondisi gejala depresi. efektivitasnya secara anxiolitik dan hiptotik telah terbukti dalam banyak penelitian.

Kombinasi efektivitas dan resiko penggunaan jangka panjang menjadi sesuatu yang sulit untuk ditangani dalam praktik klinis. Benzodiazepin memiliki banyak jenis yang dibagi menjadi golongan anxiolitik dan golongan hipnotik.

Golongan anxiolitik merupakan benzodiazepin yang dapat mengurangi ketegangan, kegelisahan, dan gangguan mood. Obat golongan anxiolitik yang biasa digunakan contohnya adalah alprazolam dan lorazepam.

Sedangkan obat golongan hipnotik biasa digunakan untuk terapi insomnia, contohnya adalah triazolam, zolpidem, dan estazolam.

Ketika benzodiapin diresepkan untuk pasien dengan gejalan depresi seperti gangguan kecemasan dan insomnia berat, benzodiazepin hanya boleh diberikan untuk bantuan jangka pendek (2-4 minggu), yang mungkin berhubungan dengan penyakit psikosomatik, organik, atau kejiwaan jangka pendek. Mereka harus diberikan benzodiapin dalam dosis terendah dan untuk waktu singkat.

Benzodiazepin dan obat-obatan serupa lainnya tidak diindikasikan untuk perawatan jangka panjang untuk gangguan kecemasan atau insomnia, kecuali dalam kasus yang jarang terjadi dimana pasien telah terbukti memiliki kecemasan atau insomnia yang resisten terhadap pengobatan, yaitu resisten terhadap terapi psikologis dan obat-obatan yang tidak bersifat aditif.

Baca Juga :  Penyalagunaan Napza Pada Remaja

Keputusan untuk meresepkan dalam keadaan ini biasanya dibuat oleh seorang spesialis. Penggunaan benzodiazepin bukan pilihan yang tepat untuk mengobati kecemasan ringan jangka pendek.

Benzodiapin dapat mulai dikonsumsi dengan tepat jika memiliki indikasi yang kelas, tetapi mudah juga menjadi penggunaan obat jangka panjang. Gejala depresi yang kambuh memungkinkan terjadinya ketergantungan terhadap obat-obatan, tetapi rendah kemungkinan untuk ketergantungan pada benzodiapin jika konsumsinya dikurangi secara berkala.

Dengan pengurangan konsumsi benzodiapin secara perlahan dan bantuan secara psikologis, penderita depresi bisa terbebas dari gangguan kecemasan, panik, agoraphobia, dan lainnya.

Menurut Ford dan Law (2014), terdapat beberapa masalah spesifik yang terjadi jika benzodiapin dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang: (a) Kesehatan mental seperti meningkatkan kecemasan, gangguan ingatan dan efek kognitif lain, depresi dan emosi yang meledak, dan stimulasi disinhibisi atau paradoksal; (b) kesehatan fisik; (c) ketergantungan.

Penyalahgunaan benzodiazepin dengan penggunaan jangka panjang yang menghasilkan efek samping masih mungkin untuk dihentikan. Upaya, waktu, dan layanan tambahan untuk detoksifikasi perlu dipertimbangkan. Perlu ada penilaian dan parameter yang dibuat mengenai kesiapan pengguna secara emosional untuk berhenti menggunakan obat tersebut.

Sebelum memulai pengurangan, masalah mendasar yang mengakibatkan gejala depresi seperti gangguan kecemasan dan insomnia perlu diatasi terlebih dahulu. Pastikan penderita memiliki perawatan yang baik untuk masalah kesehatan fisik termasuk rasa sakit, anemia, asma, esofagitis, dan penyakit kardiovaskular.

Berikut beberapa saran cara menghentikan penggunaan benzodiazepin: pengurangan dosis, kecepatan dan laju pengurangan, pengurangan bertahap dan terapi tambahan, usaha pemberhentian bermasalah, memantau pasien, dukungan psikososial tambahan, dukungan dari orang terdekat, dan dukungan dari diri sendiri.

Obat golongan benzodiazepin bisa membantu meringankan gejala depresi seperti gangguan kecemasan dan insomnia, tetapi hanya baik digunakan untuk pengobatan jangka pendek. Penyalahgunaan benzodiazepin yang digunakan dalam jangka panjang dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik juga membuat ketergantungan. Sebisa mungkin, depresi diatasi dengan perawatan non-farmakologi. Perawatan dengan penggunaan obat golongan benzodiazepin harus diawasi dan dilakukan seminimal mungkin. Penggunaan benzodiazepin dalam jangka panjang bisa dihentikan dengan pengurangan secara berkala juga dukungan piskolog dan orang-orang terdekat.

Baca Juga :  Menunggu Janji Politik Era Baru

DAFTAR PUSTAKA

Aditomo, Anindito dan S. Retnowati. 2004. Perfeksionisme, Harga Diri, dan Kecenderungan Depresi pada Remaja Akhir. Jurnal Psikologi No.1: 1-14.

American Psychiatric Association. 1990. Benzodiazepine dependence, toxicity, and abuse: A task force report of the American Psychiatric Association. Washington DC, US.

Ashton, H. 1987. Benzodiazepine withdrawal: outcome in 50 patients. British Journal of Addiction Vol.82 No.6: 665-671.

Baillargeon, L. dan P. Landreville. 2003. Discontinuation of benzodiazepines among older insomniac adults treated with cognitive-behavioural therapy combined with gradual tapering: a randomized trial. CMAJ Canadian Medical Association Journal 169(10): 1015- 1020.

Ford, Chris dan F. Law. 2014. Guidance for the use and reduction of misuse of benzodiazepines and other hypnotics and anxiolytics in general practice. Royal College of General Practitioners.

Lumongga, Namora. 2016. Depresi: Tinjauan Psikologis. Jakarta: Kencana.

Surilena. 2014. Ketergantungan Alprazolan pada Lanjut Usia dengan Insomnia dan Depresi. Damianus Journal of Medicine Vol.13 No. 3: 224-232.

WHO. 2017. Depression and Other Common Mental Disorders: Global Health Estimates. World Health Organization.

Penulis :
1. Elsa Fitri Sapta Utami 1504054
2. Cholin Tia Fadhila 1604072
3. M. Arif 1604130

Mahasiswi STIFI Perintis Padang