Pentingnya Kemampuan Komunikasi Apoteker Dalam Hubungan Interprofesional

195

Komunikasi memegang peran penting dalam kehidupan manusia baik dalam sosial ataupun pribadi. Komunikasi yang efektif dapat membantu kita memecahkan permasalahan yang ada dalam kehidupan sosial, profesional, dan pribadi serta dalam memperbaiki hubungan bermasyarakat.

Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, argumentasi yang tepat dan diperkuat oleh ekspresi bahasa tubuh yang sesuai dapat meyakinkan penerima pesan.

Dalam sebuah teori klasik Desmon Ginting dinyatakan bahwa sebuah kalimat yang bijak disertai dengan expresi wajah yang tepat dapat mencairkan suasana  yang buntu, seringkali cukup dengan sebuah interaksi yang berpengaruh dapat mengubah seluruh “dunia” anda.

Pengertian pelayanan kesehatan melingkupi cakupan yang sangat luas, artinya tidak bisa dilakukan oleh apoteker seorang diri tetapi harus diselenggarakan  secara bersama-sama dalam suatu organisasi dengan tujuan meningkatkan dan memelihara kesehatan secara keseluruhan.

Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dilaksanakan oleh berbagai kelompok profesi. Para profesional utama yang memberikan asuhan kepada pasien di rumah sakit adalah staf medis baik dokter maupun dokter spesialis, staf klinis keperawatan (perawat dan bidan), nutrisionis dan apoteker yang rutin dan pasti selalu berkontak dengan pasien.

Kolaborasi antara apoteker dengan penyedia layanan kesehatan diperlukan dalam pengaturan perawatan kesehatan apapun, karena tidak ada profesi tunggal yang dapat memenuhi kebutuhan semua pasien.

Akibatnya, kualitas layanan yang baik tergantung pada profesional yang bekerja sama dalam tim interprofessional.

Komunikasi yang efektif antara apoteker dengan profesional kesehatan juga penting untuk memberikan pengobatan yang efisien .

Kolaborasi interprofesional merupakan strategi untuk mencapai kualitas hasil yang dinginkan secara efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan. Komunikasi dalam kolaborasi merupakan unsur penting untuk meningkatkan kualitas perawatan dan keselamatan pasien.

Kemampuan untuk bekerja dengan profesional dari disiplin lain untuk memberikan kolaboratif, patient centred care dianggap sebagai elemen penting dari praktek profesional yang membutuhkan spesifik perangkat kompetensi.

Baca Juga :  Bahaya Narkoba Bagi Generasi Muda

Sebagai permulaan, ketika seorang apoteker memberikan rekomendasi terhadap dokter, hal ini menunjukkan adanya kepedulian seorang apoteker terhadap pasien yang sedang ditangani oleh dokternya.

Selain itu, fakta penting lainnya untuk menunjukkan jati diri seorang apoteker dengan cara rela menawarkan bantuan terkait obat-obatan yang digunakan.

Dengan sopan, seorang apoteker bisa  mengekspresikan keinginan untuk membantu yang sekaligus dapat membuka peluang tambahan untuk berkembang secara profesional di masa depan.

Namun, tidak setiap dokter akan mengakui keberadaan apoteker seperti yang diharapkan, dan beberapa dari dokter bahkan tidak akan melihat apoteker sebagai bagian penting dari tim perawatan kesehatan.

Salah satu kompetensi inti untuk praktek kolaboratif apoteker dengan  interprofessional adalah komunikasi interprofessional. Kerja tim dan kolaborasi mengharuskan apoteker mampu berkomunikasi secara efektif dengan tim kesehatan, pasien, dokter, nutrision dan perawat untuk mengintegrasikan perawatan maupun pengobatan yang aman dan efektif.

Profesional kesehatan dan sistem pengobatan kesehatan juga harus secara aktif berkolaborasi dan berkomunikasi untuk memastikan pertukaran informasi yang tepat dan koordinasi perawatan.

Meningkatkan pengetahuan apoteker dan dokter tentang pendekatan yang berbeda dan persepsi tentang komunikasi apoteker-dokter dan kolaborasi dapat menyebabkan saling pengertian yang lebih baik dan hubungan yang lebih efektif kolaboratif.

Apoteker juga harus mampu membangun keterampilan komunikasi dan keterampilan dalam prakteknya sehingga dapat berfungsi secara efektif dalam melakukan kefarmasian dengan tim interprofessional lainnya, mendorong komunikasi terbuka, serta menunjukkan rasa saling menghormati serta dapat dilibatkan dalam pengambilan keputusan bersama untuk mencapai perawatan yang berkualitas.

Salah satu kompetensi inti dalam melakukan praktek kolaborasi interprofesional adalah dengan melakukan komunikasi interprofesional dimana untuk melakukan kolaborasi dan kerja tim apoteker harus mampu berkomunikasi secara efektif dengan tim kesehatan lainnya sehingga dapat mengintegrasikan perawatan yang aman dan efektif bagi pasien dan tenaga kesehatan lainnya.

Baca Juga :  Resep Donut Lukumades, Cocok Lo Buat Ide Berjualan

Contoh komunikasi interprofesional yang digunakan adalah SBAR (Situation-Background AssessmentRecommendation). SBAR merupakan tehnik dalam mengkomunikasikan informasi yang penting yang membutuhkan perhatian dan tindakan dengan segera sehingga keselamatan pasien dapat terjamin dan terlindungi.

Kualitas pelayanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit cenderung dilihat atau dinilai oleh pasien atau masyarakat pengguna fasilitas kesehatan tersebut dari bentuk pelayanan yang diberikan oleh apoteker, dokter,dan perawat, terutama di ruang rawat inap.

Hal ini karena mereka lama berhubungan dengan rumah sakit dimulai berinteraksi pertama ke bagian poli atau UGD yang kemudian dilanjutkan di ruang perawatan untuk beberapa hari.

Pasien merasa puas bila apoteker, dokter, perawat melakukan hubungan atau kerjasama yang baik atau berkualitas karena semakin berkualitas jasa yang diberikan maka kepuasan yang dirasakan oleh pasien semakin tinggi.

Komunikasi yang efektif, bertanggung jawab dan saling menghargai apoteker, dokter, dan perawat mampu memberikan kontribusi yang terbaik dalam hubungan kerjasama.

Komunikasi yang efektif antara apoteker, dokter, dan perawat  mampu menumbuhkan kepercayaan antara profesi tersebut.

Untuk itu, perlu adanya komunikasi yang efektif dalam paktik kolaborasi interprofesi guna meningkatkan kualitas pelayan dan keselamatan pasien.

Komunikasi efektif dalam Interprofesi Collaboration Practice sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayan. Oleh karena itu, komunikasi yang efektif dan kolaborasi perlu diberi penekanan yang kuat di semua program perawatan kesehatan profesional untuk menjamin kepuasan dan keamanan pasien.

Penulis :

Widya Tri Lestari, S.Farm, Rama Feriska Putra, S.Farm,

Pembimbing :
DR. Apt. Ifmaily, S.Si., M. Kes
Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXVII
Fakultas Farmasi, Universitas Perintis Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

Agus M Hardjana. 2003. Komunikasi Interpersonal dan Intrapersonal. Yogyakarta : Kanisius

Rokhmah, Noor Aryani . Anggorowati . 2017. KOMUNIKASI EFEKTIF DALAM PRAKTEK KOLABORASI INTERPROFESI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN . Universitas Diponegoro .  Semarang . Indonesia

Baca Juga :  Rumah Tangga Bukanlah Rumah Makan

R.H Simamora.(2019). The Influence Of Training Handover Based SBAR Communication Of Imporoving Parents Safety. Indian Journal Of Public Health Research & Development.

Ginting, desmon. 2015 . Komunikasi Cerdas (Indonesian edition).