Terkesan Tertutup, Debat Publik Pilkada 2020 Pasbar Dilaksanakan KPU Tidak Boleh Diliput Wartawan  

1
Para Wartawan dan Masyarakat yang menunggu diluar gedung Balairung Bupati Pasbar.

Pasaman Barat (padangexpo.com)

Baru kali ini Debat Publik Pemilihan Calon Bupati (Cabup) dan Calon Wakil Bupati (Cawabup) tidak bisa diliput oleh Wartawan, itulah yang terjadi jika melihat pintu kaca tertutup di gedung Balairung Bupati Pasbar.

Atas kejadian tersebut, para rekan wartawan yang ada dilokasi protes atas tidak diperbolehkan melakukan liputan. Wartawan dan masyarakat hanya bisa menyaksikan Debat Publik tersebut dari luar ruangan melalui kaca gedung tempat penyelenggaraan debat Publik Cabub Cawabup Pemilihan 2020 yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat.

Tidak hanya dilarang masuk, pantauan para rekan Wartawan di lapangan sarana dan prasarana yang disediakan oleh KPU setempat juga tidak memadai, sehingga para Wartawan tidak leluasa mendengarkan visi misi Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati.

Debat Publik itu tidak bisa di dengar dengan jelas dari luar. Karena, panitia tidak menyediakan alat pengeras suara, layar atau monitor untuk melihat dari luar. Debat Publik itu sendiri digelar di Balerong Tuah Basamo Rumah Dinas Bupati Pasaman Barat, pada Selasa (3/19/2020) malam.

“Kalau masyarakat bisa menonton dari live streaming yang telah ditentukan oleh panitia. Apa nanti yang akan kami sampaikan kepada masyarakat bahwa tentang Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati yang mereka pilih nanti,” sebut Altas, wartawan antara.

Hal yang sama juga disampaikan oleh wartawan Sumbar Satu, Junir Sikumbang. Ia sangat menyayangkan sikap dari KPU yang tidak mengakomodir wartawan, padahal selama ini mengaku sudah menggandeng wartawan.

“Mereka tidak menganggap wartawan ini penting. Alasan mereka dilarang berkumpul karena CoVID-19, sementara staf KPU sendiri cukup banyak berada dalam ruangan,” kata Ketua Balai Wartawan Pasaman Barat itu.

“KPU beralasan karena diatur dalam PKPU, namun mereka sendiri yang melanggar dengan staf nya berkumpul-kumpul di dalam. Sementara wartawan yang disebutkan dalam UU Pers sudah jelas tugasnya,” sambungnya.

Ia melanjutkan, tugas wartawan sudah sangat jelas dan butuh informasi yang cepat untuk disajikan kepada masyarakat dan bukan butuh kursi empuk yang disediakan oleh panitia.

“Kami tidak butuh juga kursi empuk yang disediakan, Kami butuh informasi yang jelas dari debat publik ini agar masyarakat tahu itu,” jelasnya.

Kemudian ditambahkan hal yang sama oleh wartawan media online Koran Pagi Zoel Nasti. Menurutnya wartawan hanya boleh masuk sebentar untuk mengambil poto secara bergantian.

“Kita hanya dibolehkan mengambil poto, setelah itu keluar. Sementara kita tidak bisa mendengarkan apa yang disampaikan dalam proses debat publik tersebut,” sebutnya.

Jika berpatokan Protokol Kesehatan, gedung seluas setengah lapangan bola tersebut longgar dari awak media setempat yang hanya diliput TVRI Sumbar. (By roni)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here