Simpan Sabu Dalam Dubur, Pasutri Asal Batam Diamankan BNN NTB

38
Kepala BNN NTB Brigjen Pol Gde Sugianyar Dwi Putra (dua dari kiri) menunjukkan sabu dan pasutri berinisial P dan MM dalam jumpa pers di kantor BNN NTB (Ist.)

| padangexpo.com

Pasangan suami istri (Pasutri) berinisial P dan MM ditangkap petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) NTB. Pasutri asal Batam, Kepulauan Riau, itu kedapatan membawa sabu-sabu seberat 387,95 gram. ”Mereka ini menyembunyikan sabu di dalam dubur,” ungkap Kepala BNN NTB Brigjen Pol Gde Sugianya Dwi Putra dalam keterangan pers, Jumat (19/2/2021).

Pasutri yang memiliki dua anak itu ditangkap di Bandara Internasional Lombok, Kamis (11/2/2021) lalu. “Kita bisa tangkap pelaku berkat kerja sama dengan pihak bandara,” kata Sugianyar.

Informasi yang diterima BNN, pasutri tersebut terbang dari Padang, Sumatera Barat, menggunakan maskapai Lion Air. Sempat transit Jakarta. Dari informasi itu, BNN langsung melakukan penangkapan.

Saat dihentikan petugas BNN, keduanya sempat menolak diperiksa. Tetapi karena gerak-geriknya mencurigakan, petugas melakukan penggeledahan. Dari penggeledahan badan dan barang bawaannya tidak ditemukan barang bukti.

Namun saat diperiksa, kondisi pasangan itu seperti kurang nyaman. Setelah didalami, ternyata mereka menyembunyikan sabu di dalam dubur. ”Dari situ kita minta mereka mengeluarkannya di toilet,” tutur Sugianyar.

Dari dubur P keluar dua bungkusan sabu. Masing-masing seberat 100,06 gram dan 2,73 gram. Sedangkan dari dubur istrinya keluar tiga bungkusan sabu dengan berat netto masing-masing 85,23 gram; 100 gram, dan 99,93 gram.

”Jadi total berat barang buktinya 387,95 gram. Harga sabu itu Rp 775,9 juta,” jelasnya.

Kedua pelaku mengaku disuruh seseorang di Padang untuk mengirim sabu ke Lombok. Tujuannya diberikan kepada seseorang di Lombok Timur (Lotim). ”Dia dijanjikan upah Rp 40 juta. Upah itu di luar biaya perjalanan dan penginapan,” sebut pria yang pernah menjabat kapolres Balikpapan, Kalimantan Timur, ini.

Dari pengakuannya, upah menyelundupkan sabu digunakan untuk biaya berobat orang tuanya. ”Orang tuanya lagi di rumah sakit. Butuh uang untuk biaya perawatannya,” jelasnya.

Baca Juga :  Anggota Polsek Jerowaru Gagalkan Pencurian Ternak

Sang suami P mengaku baru kali pertama menyelundupkan sabu ke Lombok. Sementara sang istri MM mengaku sudah tiga kali melakukannya. ”Modus pengiriman yang dilakukan MM sebelumnya juga melalui dubur,” kata Sugianyar sambil menunjuk MM dalam.

MM meminta suaminya ikut menyelundupkan sabu lantaran sudah tidak memiliki pekerjaan. Sebelummya P bekerja sebagai tukang servis AC di Singapura. ”Tetapi, pelaku ini sudah di- blacklist bekerja di Singapura. Karena dia ketahuan bekerja menggunakan visa kunjungan,” terangnya.

Sugianyar mengatakan, sebelumnya MM diminta mengirim barang haram itu dalam jumlah sedikit. Namun, pemesan dari Lombok meminta pengiriman lebih banyak. ”Karena permintaan lebih banyak sehingga MM ini mengajak suaminya ikut mengirim sabu,” jelas mantan kabid Humas Polda Bali ini.

Saat ini, BNN masih mengembangkan kasus tersebut. Mencari tahu siapa pemesannya. ”Siapa yang menyuruh dan pemesannya ini masih kita dalami,” ujarnya.

Pasutri itu dijerat pasal 112 ayat (2) dan atau pasal 114 ayat (2) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. [HM]