Rintihan SD 10 Talantam Solsel, Bukan Tertinggal Tapi Ditinggalkan

64
Dokumentasi SD 10 Talantam yang dilanda banjir beberapa waktu lalu, dan hingga saat ini ketika hujan melanda tetap dilanda banjir.

| padangexpo.com

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi mengeluarkan SK Nomor 79 tahun 2019 tentang Penetapan Keluar dari Daerah Tertinggal.

Salah satunya Kabupaten yang dientaskan lepas dari kategori daerah tertinggal tersebut adalah Solok Selatan, bahkan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat pun sempat menggadang-gadangkan dan menyebutkan bahwa lepasnya Solok Selatan dari daerah tertinggal berkat dari kegigihan dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat, serta koordinasi yang tidak terputus dengan Provinsi.

Kerja keras dan pantang menyerah itu, membuahkan hasil manis dengan terentaskannya kabupaten dan daerah tertinggal.

Namun sangat berbeda dan jauh sekali dari kenyataan, salah satunya daerah yang masih ditinggalkan adalah Talantam, Nagari Lubuk Ulang Aling Selatan, Sangir Batang Hari, Solok Selatan.

SDN 10 Talantam Nagari Lubuk Ulang Aling Selatan, Sangir Batang Hari, Solok Selatan hingga saat ini masih bisa dikatakan jauh dari sentuhan tangan Pemerintah setempat walaupun sudah menyandang status lepas dari daerah ketertinggalan.

Lokasi sekolah yang bisa dibilang masuk dalam Daerah 3T merupakan daerah tertinggal, terdepan dan terluar tersebut sangat jauh dari sentuhan baik dari penanganan maupun bantuan lainnya ketika sekolah tersebut dilanda banjir bandang.

Bicara soal banjir, mungkin SD 10 Talantam sudah bisa dibilang kebal sebab setiap adanya hujan deras tidak ada namanya sekolah tersebut bebas dari banjir, pasti selalu mendapatkan kiriman air yang banyak merusak peralatan bahkan sampai mengganggu jam pelajaran para siswa, namun apakah harus seperti ini seterusnya ?.

Menurut informasi yang dihimpun oleh media ini dari Kepala Sekolah SD 10 Talantam dan beberapa para guru di SD 10 Talantam, Rabu 3 Februari 2021 mengatakan hampir tiap waktu disaat para guru ingin mengajarkan materi pelajaran kepada para siswa, rasa lirih dan haru serta waspada selalu menyelimuti mereka, sebab untuk jalan menuju ke talantam sendiri sangatlah rawan, yang mana harus melewati sebuah sungai panjang terbentang dengan menggunakan perahu mesin tempel (Timpek).

Baca Juga : 

Untuk menempuh perjalanan ke Talantam, 6 para guru yang berasal dari luar Nagari Lubuk Ulang Aling ini harus rela menempuh perjalanan antara 2 – 3 jam, itupun tergantung kondisi mesin Timpek yang ditumpanginya. Jika mendapatkan kapasitas Timpek yang mesinnya kecil, sudah dipastikan perjalanan sampai ke Talantam mencapai 3 jam. Begitulah kondisi yang hingga saat ini dijalani oleh para guru tersebut, terang mereka.

Belum lagi ketika berada di Sekolah, akibat cuaca tidak mendukung sudah dipastikan para guru dan siswa bersiap-siap untuk menerima banjir yang akan melanda sekolah mereka.

Mereka bahkan mengatakan kepada redaksi media ini, banjir yang terparah yang terjadi di tahun 2019, dimana dari penghitungan kurun waktu bulan November – Desember 2019 ada 13 kali banjir melanda, sungguh ironis tapi apa daya mereka tetap pasrah menerimanya.

Memang bukan perjuangan yang mudah, tapi mengingat para generasi yang telah menjadi tanggungjawab mereka untuk menjadikan mereka sebuah regenerasi yang maju dan bermartabat, para guru harus rela sekian tahun berkecimpung dengan suasana tersebut, tanpa adanya janji yang terealisasi dari Pemerintah setempat maupun instansi terkait untuk mencarikan solusi agar para guru dan para siswa di SD 10 Talantam merasa nyaman dalam proses belajar mengajar selama di sekolah dan kejadian banjir tersebut pun bukan dibilang kejadin baru, bahkan lebih kurang 20 tahun tidak ada perubahannya hingga hari ini.

Bahkan hingga hari ini, ada 6 orang guru yang terpaksa menumpang tinggal dirumah masyarakat akibat tempat yang biasa mereka tempati rusak dihantam banjir bandang pada tahun 2019 lalu dan tidak bisa ditempati sama sekali.

Baca Juga :  Polres Solok Selatan Gelar Giat Aman Nusa II dengan Membagikan Sembako Bagi Warga Terdampak CoVID-19

Apalagi saat ini, kondisi di SD 10 Talantam bisa dikatakan minim sarana prasarana. Semenjak sekolah tersebut dilanda banjir bandang pada Tahun 2019 lalu, semua peralatan dalam mendukung proses belajar mengajar sudah banyak yang hilang dan rusak akibat banjir, dan belum mendapatkan bantuan pada sekolah tersebut.

Tidak hanya dari segi sarana dan prasarana saja yang hilang akibat tergerus banjir, tunjangan daerah yang dijanjikan dari pemerintah daerah setempat sampai hari inipun belum terealisasi. Bahkan tunjangan daerah tersebut dihapuskan dari daerah khusus, terang Kepsek.

Namun tunjangan tersebut kembali diperjuangkan dan sudah terdaftar kembali ke daerah khusus, kata Kepsek.

Ia menerangkan, terkait bantuan pada tahun 2019 lalu disaat banjir melanda SD 10 Talantam tersebut memang ada, namun bantuan hanya untuk siswa berupa buku dan pakaian sedangkan untuk guru tidak mendapat bantuan.

Adapun bantuan yang didapat untuk para guru dari Pemerintah Nagari dan pihak swasta berupa sembako .

Disaat itu para guru meminta dan berharap mendapatkan bantuan buku cetak, sebab buku cetak yang ada di SD 10 Talantam tersebut semuanya tidak berbekas lagi akibat banjir tersebut namun tidak dikabulkan.

Untuk mewujudkan itu semua agar para siswa bisa belajar dan pintar, pihak sekolah terpaksa membeli buku cetak untuk siswa tersebut dari dana BOS, dengan cara diangsur namun masih banyak yang belum terpenuhi hingga saat ini.

SD 10 Talantam saat ini memiki 12 orang guru termasuk dengan Kepala Sekolah, 7 diantaranya adalah guru PNS dan 5 orang lainnya berstatus honorer. Sedangkan untuk para siswa saat ini semuanya ada 37 siswa untuk semua kelas.

Dalam hal ini seharusnya, tidak ada perbedaan baik dari sarana dan prasarana yang telah diperuntukkan bagi sekolah baik di daerah kabupaten dan kota sekaligus.

Baca Juga :  Tukar Guling Lahan Tidak Jelas, Masyarakat Lubuk Rasak Tutup Jalan Menuju Turbin PT.SKE

Kepala Sekolah dan para guru di SD 10 Talantam, sangat berharap adanya bantuan dan perhatian yang hingga saat ini masih minim dari sentuhan bantuan dan perhatian dari Pemerintah daerah maupun instansi terkait. Apalagi kondisi kebutuhan dalam proses belajar mengajar sudah banyak yang hilang dan kepada pemerintah daerah setempat serta instansi terkait agar sekiranya bisa melihat kondisi mereka disana.

Kepsek juga berharap adanya pembenahan dan relokasi sekolah seperti yang telah dijanjikan pada waktu sebelumnya, yang mana pada waktu itu pada tahun 2019 memang ada peninjauan dan dikatakan akan mencarikan lokasi baru untuk sekolah tersebut, namun hingga hari ini jangankan untuk lokasi sekolah yang baru, untuk bantuan peralatan sekolah dan buku-buku pun mereka diabaikan.

Miris memang, disaat kabupaten dan kota lainnya berlomba untuk saling berpacu baik dalam prestasi maupun dalam pembangunan sekolah agar terlihat bagus untuk menarik para calon siswa yang ingin bersekolah disana, namun lain halnya dengan SD 10 Talantam Solok Selatan yang hingga kini jauh dari jangkauan dan sentuhan sang Bapak (Pemerintah Setempat. Red) yang seharusnya memperhatikan keadaan di SD 10 Talantam Solok Selatan.

Semoga dengan adanya informasi berita yang kami sampaikan ini berharap kepada pemerintah, baik Pemkab Solok Selatan, Pemerintah Provinsi dan Instansi terkait lainnya bisa mencarikan jalan atau solusi agar para anak didik regenerasi kedepan kembali belajar dengan tenang dan mendapatkan tempat yang layak untuk mereka seperti di sekolah lainnya yang haknya sama dan tidak dibeda-bedakan. (d79/syh/redaksi).