Unsur Utama Pada Bangunan Istano Basa Pagaruyung

181

Penulis: Anggit Dwi Prayoga

Ada beberapa unsur utama pada bangunan Istano Basa Pagaruyung yang masing-masing bagian unsur tersebut mempunyai arti dan makna tersendiri, seperti:

  1. Batu Tapakan

Adalah merupakan sebuah batu yang cukup lebar yang di letakkan di depan jenjang. Ia mewakili “Front Office” dari Istano disamping mewakili pembawa berita dari pusat pemerintahan ke seluruh pelosok kerajaan dan sebaliknya. Sementara, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat hanya mengenal atau mengetahui bahwa batu tapakan tempat mencuci kaki sebelum naik ke rumah gadang. Dahulunya masyarakat Minangkabau tidak mengenal istilah “alas kaki”, disini disebut Guci yaitu tempat air yang dilengkapi dengan gayung.

  1. Janjang

Janjang dengan anak janjang, tanggo dan tangan-tangan janjang adalah jalan atau sarana masuk kedalam bangunan Istano Basa Pagaruyung dan akan mewakili serta melambangkan sistem demokrasi Minangkabau yang disalurkan melalui mufakat dengan prosesnya yang dikenal dengan istilah ” bajanjang naiak batanggo turun”.

Bajanjang naiak mewakili proses yang segala-galanya di mulai dari tingkat yang paling bawah dalam kehidupan adat Minangkabau.

  1. Anak Janjang

Anak janjang Istano Basa Pagaruyung ada 11 buah. Keberadaan janjang melambangkan kedudukan empat dari kelarasan Koto Piliang dan empat dari kelarasan Budi Caniago.Sedangkan tiga lagi melambangkan kedudukan Rajo Nan Tigo Selo, yaitu Rajo Adat, Rajo Ibadat dan Rajo Alam.

  1. Tanggo

Adalah selembar kayu vertikal antara anak janjang ke anak janjang yang lebih rendah, ia mewakili kekuatan keputusan mufakat pada masing-masing tingkat mufakat yang di sahkan dan diperkuat oleh keputusan pimpinan disetiap tingkat pemerintahan.

  1. Tangan-tangan Janjang

Tangan-tangan janjang mewakili dan melambangkan norma-norma dalam pelaksanaan demokrasi melalui mufakat. Dan norma-norma tersebut harus dilandasi oleh Langgam Adat, Undang Undang Luhak dan Agama Islam untuk mencapai hasil yang maksimal dan sekaligus untuk menghindari masyarakat dan kerajaan dari jurang kehancuran sebagai akibat hasil-hasil proses demokrasi yang tidak mengikuti norma-norma yang semestinya.

  1. Beranda

Beranda mempunyai empat tiang yang berdiri di sebelah kanan dan kiri janjang. Ke empat tiang tersebut melambangkan bahwa pada mulanya hanya ada empat suku kecil dalam masyarakat Minangkabau yang terdiri dari suku Koto, suku Piliang, Suku Bodi dan suku Caniago.

  1. Surambi Papek
BACA JUGA :  Guest House Tambasa Hadir, Wabup Richi Berharap Kunjungan Wisata Meningkat

Surambi Papek adalah sebuah ruangan sempit yang terletak antara tanggo paling atas dengan pintu masuk kedalam ruangan istno. Ruangan ini mewakili wilayah kerajaan Minangkabau pada masa awal keberadaannya. Dalam pemerintahan Surambi Papek di gunakan:

– Tempat menjaga keamanan Rajo Alam, keluarga kerajaan

– Tempat memperhatikan tamu yang keluar masuk istano

  1. Gonjong

Gonjong pada Istano Basa Pagaruyung keterpaduan dan kekuatan dari keterpaduan seluruh rakyat dengan pemerintah. Gonjong di pasang pada atap yang ditinggikan dengan ujung runcing, keberadaan gonjong di ujung runcing atap atau menyerupai mahkota raja.

Istano Basa Pagaruyung mempunyai 11 buah gonjong yang mana setiap gonjong mempunyai makna tersey.

  1. Singgasana ( Kedudukan Bundo Kanduang)

Letaknya dilantai dasar sejajar dengan pintu masuk, disini terpajang foto Raja Pagaruyung terakhir yaitu Sultan Alam Bagagarsyah. Singgasana ini dilingkari dengan tirai yang terjuntai di sisi kiri, kanan dan depan. Disinilah Bundo Kanduang duduk sambil melihat-lihat siapa yang datang atau yang belum datang apabila ada rapat dan mengatur segala sesuatu di atas rumah.

  1. Biliak

Biliak-biliak atau kamar di huni oleh putri-putri raja yang sudah menikah (berkeluarga). Biliak pertama atau yang paling kanan di huninoleh putri tertua raja yang sudah menikah, dan seterusnya di huni oleh adik-adik yang sudah menikah pula.

Masing-masing biliak pada Istano Basa Pagaruyung mempunyai sebuah jendela rahasia yang dalam istilah adat dinamakan “Singok”, yang memiliki makna:

a).8 Setiap keluarga memiliki kemerdekaan dan kedaulatan penuh

b). Setiap keluarga memiliki kelengkapan yang layak sebagai sebuah keluarga

c). Setiap keluarga selalu siaga dan waspada terhadap bahaya’ uang yang mengancam keutuhan keluarga tersebut.

  1. Anjuang Rajo Basandiang

Anjuang Rajo Basandiang berada di bagian kanan atau pangkal rumah(istana) dan mempunyai tiga langgam atau tingkat. Fungsi anjuangan ini adalah sebagai tempat sidang di kanggam pertama, tempat beristirahat pada langgam kedua dan sebagai tempat tidur raja dan permaisuri pada langgam yang ketiga.

  1. Anjuang Perak
BACA JUGA :  Bupati Eka Putra Serahkan Bantuan Logistik dari Baznas Bagi 600 Mustahik di Sungai Tarab

Anjuang Perak berada di sebelah kiri atau ujung Istano. Fungsinya sebagai tempat bundo kanduang (ibu suri) mengadakan rapat yang bersifat kewanitaan pada langgam pertama, sebagai tempat beristirahat pada langgam kedua dan sebagi tempat tidur ibu suri pada langgam ketiga.

  1. Bandua Tapi

Bandua Tapi adalah ruangan yang mula-mula ditemui pengunjung setelah memasuki bangunan utama dari arah Surambi Papek, ia meliputi ruangan antara tiang panagua alek dan tiang temban sepanjang bangunan, ruangan ini adalah tempat duduk penghulu kaum sewaktu datang mengunjungi anggota kaumnya dengan posisi duduk membelakangi jendela. Posisi duduk seperti itulah yang melambangkan perhatian, pengawasan, kepedulian dan tanggungjawab yang bersungguh-sungguh dari penghulu kaum kepada kaumnya.

  1. Bandua Tangah

Adalah ruangan bagian belakang yang ditinggikan adalah tempat bagi para sumando bersama keluarga. Ia melambangkan bahwa masyarakat Minangkabau memberikan penghormatan dan penghargaan yang tinggi terhadap sumando.

Keberadaan labuah tangah seiring dengan kata-kata mutiara adat yang berbunyi anak di pangku kamanakan di bimbiang. Kata-kata mutiara ini menunjukkan seorang bapak dalam masyarakat Minangkabau adalah orang yang paling bertanggungjawab terhadap kehidupan dan keselamatan anak dan keluarga.

  1. Labuah Tangah

Labuah Tangah adalah sebuah ruangan lepas persegi empat yang di bentuk oleh empat buah tiang, dua tiang pada deretan tiang temban dan dua tiang pada deretan tiang panjang. Ruangan ini langsung terletak didepan singgasana dan juga membagi ruangan Istano menjadi dua bagian, kedua ruangan tersebut adalah disebeykiri dan kanan. Ruangan yang disebut labuah tangah ini mewakili Lareh Nan Panjang, yaitu tempat menyampaikan sesuatu atau permasalahan kepada penguasa atau Rajo Alam.

  1. Labuah Gajah

Yaitu ruangan yang terletak antara Bandua Tapi dan Bandua Tangah, keberadaan ruangan ini dinamakan Labuah Tangah. Ruangan Labuah terpisah menjadi dua bagian, yang terletak di sebelah kanan dari pintu ydi namakan ” Pangka” dan yang terletak di sebelah kiri dinamakan ” Ujuang”. Pangka adalah tempat untuk tuan rumah, sedangkan Ujuang adalah untuk tamu. Dalam pemerintahan Lareh Koto-Piliang duduk di sebelah pangka, sedangkan Lareh Budi Caniago duduk di sebelah ujuang, Rajo Alam duduk di antara kedua Lareh dan di depan duduk kelompok Lareh Nan Panjang. Ruangan Labuah Gajah  juga di gunakan untuk berbagai keperluan baik atau dinamakan juga dengan ruangan serba guna.

  1. Dinding
BACA JUGA :  [Update] : Pasien Terkonfirmasi Positif CoVID-19 di Agam Bertambah 8 Orang

Dinding adalah unsur yang tak kalah pentingnya dibandingkan unsur-unsur penting lainnya karena ia menutupi semua kerangka bangunan Istano Basa Pagaruyung dari semua sisi.

Seluruh pemasangan dinding sejajar dengan balok-balok, penguat dinding memakai teknik pasak dan jepit, sehingga tidak memerlukan paku sama sekali. Untuk melindungi dinding dari teriknya panas matahari dan hujan, dilengkapi dengan anyaman bambu yang di sebut sasak, anyaman itu ditempatkan pada bagian luar dinding belakang dan sisi bangunan yang tidak berukir.

  1. Jendela

Jendela berperan untuk melambangkan bahwa masyarakat Minangkabau selalu secara aktif mengawasi dan mengikuti perkembangan setiap langkah anggota keluarga atau kaumnya yang berbeda di tengah-tengah masyarakat atau perubahan-perubahan yang ada didalam atau diluar lingkungan mereka, namun mereka sangat selektif dalam menerima perkembangan, kemajuan dan perubahan tersebut karena mereka sangat banyak belajar dari apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan dalam kehidupan mereka seperti yang di gambarkan dalam ungkapan ” Alam takambang manjadi guru”.

  1. Anjuang Paranginan

Anjuang Paranginan berada pada lantai dua, berfungsi sebagai tempat putri raja yang belum menikah (gadis pingitan).

  1. Mahligai

Mahligai berada pada lantai 3, ruangan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan alat-alat kebesaran raja, seperti mahkota kerajaan yang dahulunya di simpan dalam sebuah peti khusus yang di namakan Aluang Bunian. Apabila ada cara tertentu, maka alat-alat kebesaran tersebut akan di keluarkan dari tempatnya.

  1. Dapua

Dapua atau dapur terletak pada bagian belakang rumah gadang. Dapur mempunyai dua ruangan. Ruangan sebelah kanan berfungsi sebagai tempat memasak, dengan alat-alat dapur yang serba tradisional, sedangkan sebelah kiri berfungsi sebagai tempat para dayang yang berjumlah 12 orang. Dapur Istano Basa Pagaruyung dibuat terpisah dengan bangunan utama dan di hubungkan dengan selasar.

Narasumber : Dinas Parpora Kabupaten Tanah Datar