Mengembalikan Fungsi Trisila Kerajaan dalam Masyarakat Minangkabau Sebagai Wujud Apresiasi Terhadap Motif Ukiran Rajo Tigo Selo

873

| padangexpo.com (Tanah Datar)

Di Istano basa pagaruyung terlihat adanya motif ukiran rajo tigo selo. Diminangkabau dikenal adanya ukiran rajo tigo selo yang memiliki makna filosofis yang amat dalam. Ukiran ini sebagai karya seni yang memiliki nilai estetika dari bentuk tipografinya. Dalam segi makna dari ukiran ini memuat makna penggambaran ada tiga raja diminangkabau yang merupakan raja alam (dunia), raja norma budaya, dan raja ibadat. Ukiran ini menjadi simbol susunan tiga serangkai kekuasaan supaya tidak mudah terpecah belah. Pucuk pemerintahan kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung mempunyai susunan tersendiri. Kekuasaan pemerintahan dipegang oleh tiga orang raja; Raja Alam, Raja Norma budaya dan Raja Ibadat. Raja Alam, Raja Norma budaya dan Raja Ibadat ketiganya dikata Rajo Tigo Selo Sedangkan Raja Norma budaya dan Raja Ibadat dikata Rajo Duo Selo Ketiga-tiga raja berasal dari keturunan yang sama. Masing-masing selalu berusaha bagi saling bersatu dalam jalinan perkawinan. Mungkin hal ini diperlukan bagi menjaga keutuhan kekuasaan Rajo Tigo Selo. Masing-masing raja mempunyai daerah kedudukan masing-masing. Raja Dunia mempunyai kedudukan di Pagaruyung, Raja Norma budaya mempunyai kedudukan di Buo dan Raja Ibadat mempunyai kedudukan di Sumpur Kudus.

Raja Dunia merupakan yang tertinggi dari ketiga raja tersebut. Raja Dunia berfungsi untuk memutuskan hal-hal mengenai kepemerintahan. Raja yang memutuskan bagaimana hubungan sesama manusia bisa berjalan dengan damai, aturan adat dapat dilaksanakan secara tepat, sehingga jelas tatanan beradat ditengah-tengah masyarakat minangkabau.Masing-masing raja mempunyai tugas, kewenangan dan mempunyai daerah kedudukan tersendiri. Raja Dunia membawahi Raja Norma budaya dan Raja Ibadat.

Raja Dunia mempunyai kedudukan di Pagaruyung,  Raja Dunia menguasai daerah-daerah rantau. Pada setiap daerah Raja Dunia mengangkat wakil-wakilnya yang diberi kewenangan mewakili kekuasaan raja dikata “urang gadang” atau “rajo kaciak”. Mereka setiap tahun mengantarkan “ameh manah” kepada raja. Daerah-daerah rantau tersebut terbagi dalam dua daerah yang bertambah luas; rantau pantai timur dan rantau pantai barat. (https://palantaminang.wordpress.com/pagaruyuang/bab-iii-rajo-tigo-selo)

BACA JUGA :  Sikumbang 12 Hibahkan Tanah 2.200 M², Bupati Tanah Datar Sampaikan Ini 

Oleh karena itu ia raja dunia ini sudah memiliki ranah kekuasaan yang jelas sesuai dengan fungsinya untuk mengatur masalah wilayah kekuasan dan upaya pemakmuran masyarakat dalam lingkup kekuasaannya.sedangkan Raja Norma budaya yang mempunyai kedudukan di Buo yang  berwenang memutuskan perkara-perkara masalah peradatan, apabila pihak Basa Ampek Balai tidak dapat memutuskannya. Apabila berada masalah norma budaya yang tidak mungkin pula dapat diputuskan oleh Raja Adat, masalah tersebut dibawa kepada Raja Alam. Raja Dunia lah memutuskan segala sesuatu yang tidak dapat diputuskan oleh yang lain.

Raja Ibadat yang mempunyai kedudukan di Sumpur Kudus merupakan raja yang berwenang memutuskan perkara-perkara masalah keagamaan apabila pihak Basa Ampek Balai tidak dapat memutuskannya. Apabila berada masalah-masalah keagamaan yang tidak dapat diputuskan oleh Raja Ibadat, masalah tersebut dibawa kepada Raja Alam. Raja Dunia lah memutuskan segala sesuatu yang tidak dapat diputuskan oleh yang lain.

Melihat penjelasan di atas maka sudah jekas trisilla raja dalam budaya alam minangkabau. Masing-masing raja memiliki  tugas dan fungsinya masing-masing meski keputusan akhir dapat ditentukan oleh raja alam (dunia). setiap raja punya wewenang dan kekuasaan yang berbeda dalam satu sistem pemerintahan yang sama. Adakalanya raja alam harus mampu memfungsikan pada porsinya masing-masing. Hendanya tidak ada yang merasa paling unggul namun bersama bersinergis untuk membangun sebuah peradaban minangkabau yang tinggi.

Sebuah sistem pemerintahan seharusnya menyerahkan sesuatu pada ahlinya pada wilayah wewenang kekuasaannya masing-masing. Profesinalisme akan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang timbul dikarenakan adanya pembagian tugas yang tepat sesuai dengan kapasitas pemimpin yang   dipilih sesuai wilayah kerjanya masing-masing. Profesionalisme tugas akan tanggungjawab yang di emban menjadi penentu kesuksesan sebuah kerajaan yang dijadikan pusat pemerintahan. Ketiga raja tersebut harus berupaya menjalankan tugas dan fungsinya dalam membangun sebuah kerangka peradaban budaya minangkabau, sehingga pemimpin pemerintahan tidak langsung berfungsi dominan untuk mengatur masalah adat dan agama.

BACA JUGA :  Keistimewaan Istano Basa Pagaruyung

Dalam Hal ini ukiran rajo tigo selo memberi simbol  pada kehidupan kekinian bagaimana upaya mensinergiskan antara ketiga raja tersebut di atas menjadi pelajaran hikmah agar menyerahkan permasallahan pada ahlinya dan orang yang diamanahkan. Agar roda pemerintahan dapat berjalan sebaik-baiknya. Untuk  masalah adat dan agama dapat diserahkan kepada raja adat seperti penghulu atau datuak  di minang kabau, dan masalah agama dapat di serahkan pada alim ulama yang menguasai tentang hal agama yang dapat meluruskan tindakan  masyarakat pada umumnya dan masyarakat minangkabau khususnya. Raja alam yang secara dominan dengan segala kekuasaan tidak dapat bertugas semena-mena dalam memutuskan perkara yang terjadi namun bisa saling duduk bersama dengan raja adat dan raja ibadat untuk mencapai tujuan bersama. Perilaku ini merupakan apresiasi nyata terhadap ukiran rajo tigo selo yang ada pada pada ukiran rumah gadang istano basa pagaruyung, sehingga ukiran tersebut tidak hanya simbol tapi bterealisasi dengan apik dalam struktur trisilla yang ada dalam pemerintahan dan kerajaan minangkabau. (dody)