Merantau Sebagai Implementasi Makna Filosofis dari Ukiran Lumuik Hanyuik

216

| padangexpo.com (Tanah Datar)

Aka lapuak gagangnyo lapuak
Hiduik nan indak mamiliah tampek
Asa lai lambah, inyo lah tumbuah
Dalam aia bagagang juo

Aia hilia lumuik pun hilia
Walau tasalek di ruang batu
Baguba babondong-bondong
Aia bapasang lumuik bapiuah
Namun hiduik bapantang mati

Baitu untuangnyo lumuik
Indak mancari tampek diam
Hanyo manompang jo aia hilia
Indak mamiliah tampek tumbuah
Asa kasampai ka muaro
Usah cameh badan kahanyuik

Baguru kito kalumuik
Alam takambang jadi guru
Lahianyo lumuik nan disabuik
Bathinnyo Adat Minangkabau

Dilariak di papan tapi
Ukiran rumah nan di lua
Gambaran adat hiasan alam
Pusako salamonyo

Ukiran motif lumuik hanyuik  terdapat di istano basa pagaruyung dicerminkan secara filosofis dengan tradisi merantau yang dilakukan oleh orang di suku minangkabau.  Motif ukiran ini dengan gamblang menceritakan perjalanan sejarah orang-orang yang mendirikan Kebudayaan Minangkabau. Entah darimana mereka datang, entah sudah berapa daerah yang mereka lalui, entah sudah berapa lautan yang mereka seberangi dan entah sudah berapa pegunungan yang mereka daki.

Filosofi motif  ukiran ini telah mengambarkan tentang kebiasaan merantau yang sangat legendaris di kalangan orang Minangkabau bahkan lebih jauh lagi sebelum istilah Minangkabau itu ada. Filosofi motif ini secara nyata merekam  episode-episode sejarah yang panjang yang penuh dengan perjuangan , cerita-cerita penaklukan, cerita-cerita penyingkiran, cerita-cerita petualangan dan cerita-cerita pembangunan peradaban. Episode ini sejatinya merupakan sejati berulangnya peristiwa sejarah dalam kurun waktu yang panjang.

Orang Minangkabau  seperti lumut (ganggang) sungai yang hanyut. Akarnya lapuk gagangnya lapuk (terlepas dari akar sejarah kegemilangan), hidup tidak memilih tempat, air hilir lumut pun hilir (mengikuti peradaban yang berkembang pada masanya). Lahirnya lumut yang disebut, batinnya Adat Minangkabau.

BACA JUGA :  Validasi Data PMKS Amburadul, Camat Majauleng Dinilai Kangkangi UUD Nomor 13 Tahun 2011   

Merantau dapat diartikan sebagai perginya seseorang dari tempat asalnya ke wilayah atau tempat lain untuk mencari pengalaman. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merantau berarti pergi ke negeri lain, untuk mencari penghidupan atau ilmu. Merantau identik dengan migrasi, merantau  pula merupakan istilah Melayu, Indonesia, dan Minangkabau yang sama arti dan pemakaiannya dengan kata rantau. (https://www.kompasiana.com/fathimahazzahra6895/60b6dd90d541df735129c3f3/tradisi-merantau-suku-minangkabau)

Banyak faktor yang menjadi dasar seseorang untuk pergi merantau. Faktor tersebut antara lain faktor ekonomi, faktor alam, faktor pendidikan, dan faktor tradisi atau budaya. Tetapi, alasan paling sering dan mendasar seseorang pergi merantau adalah karena faktor ekonomi. Kebanyakan orang berharap dapat menemukan kehidupan yang lebih layak dengan pergi merantau ke wilayah lain. Kebanyakan Minangkabau merantau merupakan salah satu tradisi dan bukan disebabkan karena faktor ekonomi. Budaya merantau orang Minangkabau sudah ada sejak lama sebagai bentuk pemekaran wilayah ke daerah lain. Merantau juga sebagai motivasi masyarakat minang agar dapat beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Merantau merupakan budaya mereka dengan ujuan rantaunya pun tidak terbatas.

Alasan suku Minangkabau pergi merantau karena merantau merupakan suatu keharusan. Para pemuda akan dipandang lebih dewasa apabila mereka merantau. Laki – laki muda yang belum menikah apabila tidak merantau akan dianggap sebagai orang yang penakut dan tidak mandiri. Mereka akan dikatakan penakut karena tidak berani mencoba kehidupan baru di luar Minang, sedangkan mereka dikatakan tidak mandiri karena masih bergantung pada orang tua bahkan sanak saudara yang berada di tanah Minang. (https://www.kompasiana.com/fathimahazzahra6895/60b6dd90d541df735129c3f3/tradisi-merantau-suku-minangkabau)

Merantau Suku Minangkabau juga disebabkan karena beberapa faktor, seperti faktor matrilineal, faktor budaya, faktor ekonomi, dan faktor pendidikan. Adanya faktor sistem matrilineal dimana dalam tradisi Minangkabau,  harta pusaka atau hak waris hanya diberikan kepada pihak perempuan, sedangkan pihak laki-laki hanya memiliki hak yang kecil. Maka hal ini menjadi salah satu penyebab kaum pria Minang lebih memilih untuk merantau. Sedangkan faktor budaya terjadi karena adanya pepatah yang berbunyi, “Karatau tumbuah di hulu, babuah babungo alun, marantau bujang dahulu, dirumah baguno alun”. Pepatah tersebut memiliki arti bahwa anak laki-laki yang masih bujangan atau belum menikah tidak mempunyai peranan atau posisi dalam adat. Sehingga keputusan dalam keluarga tidak dapat diputuskan oleh laki – laki. Oleh karena itu, si anak laki – laki harus mencari pengalaman di luar ranah Minang, agar memiliki pengalaman hidup dan lebih dipandang oleh masyarakat saat ia kembali.Faktor  pendidikan juga merupakan faktor penyebab merantau. Pentingnya pendidikan Islam dalam masyarakat Minang Karena keterbatasan tingkat pendidikan. Pendidikan membuat masyrakat untuk merantau untuk melanjutkan pendidikan.

BACA JUGA :  Langgar PSBB, 50 Orang Terjaring Razia Oleh Petugas Gabungan di Kawasan Pasar Baru

Sebagai karya seni ukiran lumuik hanyuik secara filosofis mendukung Konsep merantau masyarakat Minangkabau yang berbeda dengan masyarakat daerah lain.  jika biasanya merantau yang dilakukan masyarakat  didasari karena faktor ekonomi, merantau yang dilakukan oleh orang  Minangkabau lebih kepada konsep diri dan upaya pelestarian budaya dan berupa apresiasi seni ukir yang memiliki pemaknaan secara filosofis.(dody)