Diduga Pengurus Pesantren Terpadu Serambi Mekkah, Abaikan Rasa Kemanusiaan ?

237

padangexpo.com (Padang Panjang)

Kejadian tidak mengenakkan terjadi pada orang tua murid yang anaknya mondok di Pesantren Terpadu Serambi Mekkah di Padang Panjang. Sebut saja Andeh, orang tua salah satu murid yang merasa anaknya di rugikan gara-gara anaknya kedapatan membawa Handphone di pondok pesantren tersebut.

“Kejadian itu Selasa tanggal 26 kemaren, berawal dari anak saya ingin membuat konten video lepas jam pelajaran (sekira jam 10 malam) untuk kenang-kenangan karena anak saya lulus, tiba-tiba datang Umi Habibah yang secara spontan meminta dan mengambil paksa HP (iPhone) dan 1 unit Laptop dengan tidak boleh bermain Hp di pondok. Hari ini, kami selaku orang tua datang menghadap ke kantor pesantren untuk menyelesaikan urusan ini secara baik-baik namun pihak pesantren tidak ada tanggapan dan pedulinya tantang masalah ini. Karena menurut Umi Nur Hikmah salah satu pengurus ponpes tersebut menyampaikan kepada saya bahwasannya kemungkinan gak akan Hp dan laptop itu di kembalikan lagi, alasannya hp dan laptop itu akan di jual dan di sedekahkan ke anak yatim. Dan itu sudah sering kejadiannya dengan dalil yang sama,” ujar Andeh, Sabtu (30/3).

Ketika media ini tiba di lokasi Ponpes Serambi Mekah bersama orang tua murid, namun tanggapan dari pihak ponpes sangat berbelit-belit dan dingin seolah-olah terkesan menutupi sesuatu.

“Kalau mau pulang silahkan lunasi dulu di bagian keuangan pak,” ujar Umi Nur Hikmah kepada Padang Expo, padahal yang ditanya soal penyitaan Hp tapi malah di suruh ke bagian keuangan.

“Selain itu, terlambat anak-anak pulang ke ponpes masing-masing anak kena denda Rp. 50 ribu per anak, kedapatan anak-anak memakai baju lengan pendek, harus kena denda Rp. 5.000 per anak, terlambat pulang dari pasar kena denda Rp. 10.000/anak, kalau kedapatan kamar kotor, Rp 150.000/kamar kena denda. Dan muara dari uang denda tersebut sampai saat ini tidak jelas kemana perginya, pak. Apakah memang untuk ponpes atau pribadi, bahkan kedapatan anak-anak mencuci pakaian sendiri, juga kena denda. Harus loundry, artinya ini sudah merupakan ajang bisnis di dalam ponpes Serambi Mekah ini. Saya merasakan hal itu karena anak saya di sini pak,” lanjut Andeh.

BACA JUGA :  GANN Kota Padang Panjang Gelar Rakor Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba Bagi Generasi Muda

“Bahkan pernah ada kejadian beberapa bulan yang lalu, seorang pengurus ponpes bernama Umi E, di duga mengutip ada yang Rp 400 ribu, Rp 800 ribu, Ro 100 ribu, Rp 300 ribu, Rp 3 juta bahkan ada emas kepunyaan santriat yang di larikan oleh Umi E, dengan alasan dana tersebut di pinjam, namun tiba-tiba beralih ke alasan untuk wisuda yang ujung-ujungnya Umi E tersebut melarikan diri dan tidak di tindaklanjuti oleh pihak pengurus ponpes dengan alasan takut Serambi Mekah jelek namanya,” ujar salah satu Santriat yang lagi mondok di sini.

“Modusnya kami di suruh titipkan ATM karena gak boleh keluar, namun di ambil lebih terus oleh Umi E itu pak,” lanjut Santriat tersebut.

Ketika hal ini di konfirmasikan ke salah satu pengurus Ponpes Serambi Mekah tersebut, pengurus tersebut berkelit dan di suruh menunggu putusan dari pimpinan Ponpes. Namun sayang, ketika Padang Expo meminta nomor pimpinan Ponpes Serambi Mekah Padang Panjang kepada seorang pengurus Ponpes, jawabannya tidak mengenakkan.

“Gak bisa pak, harus melalui prosedur pak, nanti biar di selesaikan langsung sama pimpinan,” kata pengurus tersebut enggan memberikan nomor handphone pimpinannya.

Lebih lanjut, Andeh juga menyampaikan bahwasannya sebenarnya banyak kejadian seperti dugaan pungli ini di Ponpes Serambi Mekah namun orang tua dan anak mereka gak berani ngomong karena takut dikeluarkan atau di pecat.

Umi Habibah selaku wali asrama, mengatakan bahwasannya itu melanggar aturan, di asrama di larang.

“Aturannya secara tertulis sudah ada pak, di larang bawa hp dan laptop, apabila kedapatan maka hp dan laptop itu milik pesantren pak, nanti akan kita jual lalu uangnya akan di bagikan ke anak yatim, terlepas dari setuju tidaknya yang punya, itu aturan sudah jelas pak,” kata Umi Habibah.

BACA JUGA :  Sambut Positif Kehadiran FJKIP, Ketua DPRD : Selalu Bersinergi dengan Pemko dan DPRD

Umi Habibah juga menjelaskan bahwa di pesantren ini semuanya loundry, di larang mencuci baju sendiri. Pakaian kotor harus di bawa ke loundry, santri dan santriat di larang mencuci sendiri, semuanya harus loundry, lanjut Umi Habibah. (Dwi)