Penulis: Anggit Dwi Prayoga
Batagak Tonggak Tuo adalah suatu upacara ritual adat di Minangkabau dalam mendirikan sebuah rumah adat atau Rumah Gadang. Upacara ritual adat biasanya dilakukan untuk memperoleh berkah agar rumah yang dibangun selalu mendapat limpahan Rahmat dan karunia Allah Yang Maha Kuasa. Sedangkan Tonggak Tuo itu sendiri dapat dikatakan sebagai tonggak/tiang utama yang terdapat di tengah-tengah rumah dan menjadi tumpuan oleh tonggak-tonggak lainnya.
Kayu untuk tonggak Tuo diambil secara adat dari hutan yang ada di kaki gunung Merapi dari Nagari Tuo Pariamgan, karena Pariangan adalah Nagari asal atau nagari pertama di Minangkabau dan dari Nagari Pariangan inilah orang Minangkabau berkembang ke nagari lain dan ke Luhak lainnya.
Selanjutnya disini pulalah tempat bermukimnya Angku Datuak Bandaro Kayo dan Datuak Maharajo Basa( Tampuak Tangkai Alam Minangkabau).
Menjemput tonggak tuo ke Nagari Pariangan dilakukan oleh Kerapatan Adat Nagari(KAN) Pagaruyung, Ninik mamak nan Batujuah beserta beberapa Bundo kanduang Nagari Pagaruyung dan di dampingi oleh LKAAM serta Bundo kanduang Tanah Datar.
Dalam rangkaian prosesi adat mendirikan rumah ini disejalankan dengan acara batolak bala, yaitu prosesi berdoa/berdzikir bersama memohon kepada Allah SWT agar di jauhkan dari segala bencana serta penghuni dan orang-orang yang datang berkunjung senantiasa mendapat perlindungan.
Proses adat ini biasanya dilakukan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku pada setiap nagari atau yang dikenal juga dengan Adat Salingka Nagari. Kemudian karena Istano Basa Pagaruyung ini di dirikan di Nagari Pagaruyung maka proses adatnya adalah sesuai yang berlaku di Nagari Pagaruyung tersebut.
Setelah di jemput dan dipenuhi persyaratan secara adat maka kemudian tonggak tuo dapat di bawa ke Nagari Pagaruyung untuk dipakai membangun Istano Basa Pagaruyung.(Dari berbagai sumber)

