padangexpo.com // Padang Panjang
Suasana meriah menyelimuti malam penutupan Festival Literasi III dan Festival Pamenan Minangkabau II yang digelar di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM), Minggu (27/7). Kedua festival tersebut menjadi panggung perayaan budaya yang memadukan kekayaan tradisi dengan sentuhan kreatif masa kini.
Malam puncak Festival Pamenan Minangkabau II menghadirkan berbagai pertunjukan seni yang memukau. Grup Lansia Kampuang Sarugo dari Kabupaten Limapuluh Kota berhasil mencuri perhatian penonton lewat penampilannya yang enerjik dan menghibur. Mereka tampil bersama sejumlah kelompok seni ternama lainnya, seperti Sanggar Aguang dari Padangpanjang dan Ruang Belajar Bintang Harau yang menampilkan pertunjukan bertajuk Hiruak Pikuak di Dapua Minangkabau.
Pementasan bertema “Ibu sebagai Madrasah bagi Anak-Anaknya” oleh Lab ART Project dari Padangpanjang juga menyentuh emosi penonton. Show D Dance Theater dari Padang menghadirkan tari kontemporer penuh energi, sementara Sanggar Saandiko dari Bukittinggi menampilkan karya berjudul Perjalanan. Musik rock dari Jingler Queen turut menambah semarak suasana malam itu.
Tak hanya pertunjukan seni, festival juga menyuguhkan seminar dan lokakarya edukatif. Salah satu narasumber, Yelfi Yenita selaku Bundo Kanduang Kota Padangpanjang, mengapresiasi penyelenggaraan festival yang menurutnya memberi ruang edukasi mengenai peran perempuan Minangkabau dalam budaya lokal.
“Dengan tema ‘Padusi di Rumah Gadang’, festival ini mengingatkan kita akan pentingnya peran Bundo Kanduang sebagai penjaga nilai dan tempat kembali bagi generasi muda,” ujar Yelfi.
Sebagai penutup acara, artis Minang Upiak Isil tampil membawakan lagu-lagu hitsnya yang membuat suasana semakin hangat meski diguyur hujan. Kemeriahan bertambah dengan pembagian doorprize yang disambut antusias oleh para pengunjung.
Komunitas Hitam Putih selaku penyelenggara juga menyerahkan plakat apresiasi kepada instansi yang turut mendukung suksesnya festival, antara lain Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Perkim-LH, serta jajaran Bundo Kanduang dan pegiat seni.
Direktur Festival Pamenan Minangkabau II, Afrizal Harun, menjelaskan bahwa tema Padusi di Rumah Gadang dipilih untuk mengangkat tiga dimensi budaya Minangkabau: Pamenan Kato, Pamenan Mato, dan Pamenan Talingo melalui 20 penampilan dari berbagai sanggar seni se-Sumatera Barat. Kegiatan ini didukung oleh Hibah Indonesiana dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI.
“Festival ini adalah lanjutan dari edisi pertama yang digelar di Rumah Gadang Salinduang Bulan, Tanah Datar tahun 2022 lalu,” jelas Afrizal, didampingi Tim Kurator Syahrul N, Ali Syukri, Yusril, dan Nasrul Azwar.
Yusril Katil, penggagas Komunitas Hitam Putih sekaligus Dosen ISI Padangpanjang, menegaskan bahwa Rumah Gadang perlu dijadikan fasilitas publik karena dalam tradisi Minangkabau, seni tumbuh dari ruang sosial, bukan dari panggung konvensional.
Ia berharap Festival Pamenan Minangkabau bisa menjadi inspirasi bagi Pemerintah Kota Padangpanjang untuk terus mendukung festival kebudayaan sebagai bagian dari program unggulan kota event.
“Padangpanjang adalah Kota Hujan, dan saat pembukaan kami juga tampilkan Fashion Show Jas Hujan—ini bentuk kreativitas lokal yang bisa dikembangkan menjadi ikon daerah,” ungkap Yusril.
Atas nama panitia, Yusril menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Padangpanjang dan seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan acara tersebut.
“Dukungan dan partisipasi semua pihak menjadi kekuatan utama bagi keberlangsungan kegiatan budaya yang berkelanjutan. Kami berharap festival ini tidak berhenti di sini, tetapi terus tumbuh dan berkembang,” pungkasnya(yaldi)

