padangexpo.com // Lima Puluh Kota
Peringatan Hari Jadi ke-185 Kabupaten Lima Puluh Kota tak sekadar seremoni tahunan. Rapat Paripurna DPRD yang digelar, Senin (13/4/2026), menjadi panggung refleksi sekaligus penegasan arah kebangkitan pasca bencana 2025 yang sempat mengguncang sendi kehidupan masyarakat.
Mengusung tema “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat untuk Lima Puluh Kota Maju dan Bermartabat”, rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Doni Ikhlas itu dihadiri berbagai unsur pemerintah, termasuk Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman, yang mewakili Wali Kota Zulmaeta.
Dalam sambutannya, Bupati Lima Puluh Kota, Safni, menegaskan bahwa tema yang diusung bukan slogan kosong, melainkan lahir dari pengalaman pahit bencana yang menguji ketahanan daerah.
“Pulih lebih cepat berarti kita bergerak sigap memulihkan ekonomi, layanan publik, dan kehidupan sosial. Bangkit lebih kuat adalah tekad membangun fondasi yang kokoh melalui persatuan, penguatan SDM, serta tata kelola pemerintahan yang bersih,” tegas Safni.
Ia menambahkan, arah kebangkitan tersebut telah dirumuskan dalam RPJMD 2026–2029 dengan visi besar: Lima Puluh Kota Bermartabat, Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan. Sebuah target ambisius yang, menurutnya, hanya bisa dicapai melalui sinergi lintas sektor.
Namun, di balik optimisme itu, tantangan nyata masih membayangi. Pemulihan pasca bencana bukan sekadar membangun ulang infrastruktur, tetapi juga memulihkan kepercayaan publik dan daya tahan ekonomi masyarakat.
Kehadiran Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman, mempertegas pentingnya kolaborasi regional. Ia menegaskan bahwa hubungan Payakumbuh dan Lima Puluh Kota bukan sekadar kedekatan wilayah, melainkan ikatan historis dan kultural yang tak terpisahkan.
“Payakumbuh dan Lima Puluh Kota adalah saudara yang dipisahkan administrasi, tapi tidak oleh hati. Kita berasal dari akar yang sama, Luhak Limo Puluah. Kami siap berjalan bersama untuk kemajuan daerah ini,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Dalam konteks pembangunan wilayah, sinergi dua daerah ini menjadi kunci mempercepat pemulihan dan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.
Meski demikian, peringatan hari jadi ini juga menyisakan pertanyaan mendasar: sejauh mana semangat “bangkit lebih kuat” benar-benar diterjemahkan dalam kebijakan konkret, bukan sekadar narasi seremonial?
Di usia ke-185, Lima Puluh Kota dihadapkan pada ujian sesungguhnya—membuktikan bahwa dari luka bencana, dapat lahir tata kelola yang lebih tangguh, ekonomi yang lebih inklusif, dan pembangunan yang benar-benar berpihak pada masyarakat(Ken)

