Site icon Padang Expo

Negara Hadir, Tapi Belum Cukup: ATENSI Disalurkan, PR Kemiskinan Masih Menanti Jawaban

padangexpo.com // Payakumbuh

Pemerintah Kota Payakumbuh kembali menyalurkan bantuan sosial melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) dari Kementerian Sosial RI. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Wali Kota Elzadaswarman, mewakili Wali Kota Zulmaeta, di Kantor Dinas Sosial Kota Payakumbuh, Kamis (9/4/2026).

Di balik seremoni penyerahan, terselip pesan klasik yang terus diulang: negara hadir untuk masyarakat kurang mampu. Namun, di sisi lain, fakta bahwa puluhan warga masih berada dalam kategori rentan sosial menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah belum benar-benar tuntas.

“Bagaimana masyarakat yang kurang mampu ini perlu kita berikan perhatian khusus. Makanya pemerintah hadir di sini untuk memberikan perhatian dan bantuan,” kata Elzadaswarman.

Pemerintah daerah, lanjutnya, terus mengandalkan kolaborasi dengan pemerintah pusat untuk memperkuat jaring pengaman sosial. Program ATENSI disebut sebagai salah satu instrumen penting dalam menjawab kebutuhan dasar masyarakat sekaligus simbol kehadiran negara di tengah kelompok rentan.

Sebanyak 90 warga Payakumbuh ditetapkan sebagai penerima bantuan setelah melalui proses asesmen sejak Februari 2026. Mereka berasal dari kelompok Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) pada desil 1 hingga 4—lapisan masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah.

Pekerja Sosial Sentra Abiseka Pekanbaru, Tien Septemberiawati, mengungkapkan total bantuan yang disalurkan mencapai Rp188.839.000. Bantuan itu tidak hanya berupa pemenuhan kebutuhan hidup layak, tetapi juga menyasar aspek pemberdayaan seperti bantuan kewirausahaan, perlengkapan sekolah, sarana kamar, hingga alat bantu aksesibilitas.

“Harapan kita bantuan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar penerima, tetapi juga mampu mendorong kemandirian,” ujarnya.

Elzadaswarman memastikan seluruh penerima telah melalui proses verifikasi ketat agar bantuan tepat sasaran. Ia juga menekankan pentingnya membangun motivasi bagi penerima agar tidak selamanya bergantung pada bantuan.

Namun, pertanyaan mendasar tetap mengemuka: sejauh mana bantuan ini mampu memutus rantai kemiskinan, bukan sekadar meredam dampaknya?

Program ATENSI memang memberi napas bagi masyarakat rentan. Tapi tanpa penguatan ekonomi yang berkelanjutan, bantuan berisiko menjadi siklus—datang, habis, lalu kembali menunggu.

Di titik inilah, kehadiran negara diuji: bukan hanya hadir saat menyerahkan bantuan, tetapi juga memastikan warganya benar-benar bisa berdiri tanpa harus terus menengadah(Ken)

Exit mobile version