APA ITU MASSA REMAJA ?
Masa remaja sering disebut sebagai masa peralihan atau masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pada masa remaja akan terjadi perubahan yang penting dalam kehidupan manusia, meliputi perubahan fungsi – fungsi jasmani dan rohani.
Tidak dapat dipungkiri juga bahwa masa remaja merupakan masa yang sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan. Masa remaja merupakan salah satu tahap perkembangan yang krusial, hal ini disebabkan karena individu harus mencapai perasaan identitas ego yang teguh.
Pada masa ini individu berjuang untuk menemukan jati dirinya, berupa identitas seksual, ideologis, dan pekerjaan. Pada tahap pencarian identitas, membuat remaja selalu mencoba hal-hal baru dan mencari jati diri dengan bergaul dengan teman sebayanya.
Menurut ahli Psikologi, perkembangan remaja seringkali menolak standar yang telah ditetapkan oleh orang tua dan akan lebih menerima penilaian teman sebayanya. Jika penilaian teman sebaya tidak berbeda jauh dengan standar orang tua atau keluarga maka kemungkinan mereka mengalami krisis identitas menjadi semakin kecil. Akan tetapi, kenyataannya penilaian teman sebaya dan standar keluarga seringkali bertentangan yang dapat menyebabkan konflik.
Hal ini lah yang menyebabkan terjadinya krisis identitas dan membuat remaja mencoba dan bereksperimen dalam berbagai hal. Dalam upaya pencarian identitas dirinya, remaja mungkin meninggalkan rumah, mengembara sendirian untuk menemukan identitas dirinya, bereksperimen dengan obat psikotropika dan seks, atau memberontak dan melawan kemapanan masyarakat oleh karena pergumulan di masa ini, remaja mempunyai kebutuhan sosialisasi yang optimal, dan membutuhkan perhatian serta dukungan dari orang tua dan keluarga dalam kerentanan di masa remaja. Remaja dapat terjebak dalam perkembangan pribadi yang lemah dan bahkan dapat dengan mudah terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba jika kebutuhan remaja kurang diperhatikan terutama oleh orang tua dan keluarga.
Narkoba
Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika, Psitropika dan Bahan Adiktif lainnya (Subagyo Partoraharjo, 2004). Narkoba atau narkotika berasal dari bahasa Yunani yakni narke atau narkam yang memiliki arti terbius sehingga tidak dapat merasakan apa pun.
Sedangkan dalam bahasa Inggris, narcose atau narcosis memiliki arti menidurkan atau pembiusan. Dalam UndangUndang RI Nomor 35 Tahun 2009 narkoba dijelaskan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman atau pun bukan tanaman, baik sintesis ataupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penerunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi bahkan sampai menghilangkan rasa nyeri, serta dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan ke dalam berbagai golongan.
Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009, narkoba dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu narkotika, psitropika, dan zat adiktif lainnya Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009, narkoba dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu narkotika, psitropika, dan zat adiktif lainnya :
Narkotika
Narkotika merupakan sejenis obat atau zat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis ataupun bukan, yang dapat menyebabkan penurunan maupun perubahan kesadaran serta hingnya rasa. Narkotika memiliki daya adiksi yang berat serta memiliki daya toleran dan daya habitual yang sangat tinggi. Hal ini lah yang menjadi penyebab pemakai narkotika sulit terlepas dari cengkramannya. Narkotika terbagi ke dalam tiga golongan, yaitu:
Golongan I: narkotika jenis ini hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak dapat digunakan dalam terapi serta memiliki potensi ketergantungan yang sangat tinggi. Contohnya ganja, kokain, dan heroin.
Golongan II: dapat digunakan untuk pengobatan, digunakan dalam terapi atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Serta memiliki potensi ketergantungan yang sangat tinggi. Contohnya petidine dan mrphin.
Golongan III: memiliki khasiat untuk pengeobatan serta banyak digunakan dalam terapi dan dapat digunakan dengan tujuan pengembangan ilmu pengetahuan. Narkotika jenis ini memiliki potensi ketergantungan ringan. Contohnya adalah codein dan turunannya.
Psikotropika :
Psikotropika merupakan obat atau zat, baik yang sintetis ataupun alamiah, yang memiliki khasiat psikoaktif melalui pengaruh elektif pada susunan saraf pusat serta dapat menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan juga perilaku. Menurut UndangUndang Nomor 5 Tahun 1997, psikotopika dibagi ke dalam beberapa golongan diantaranya:
Golongan I: Psikotropika jenis ini hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, tidak dapat digunakan dalam terapi, serta memiliki potensi ketergantungan yang kuat. contohnya adalah LSD, MDMA, dan STP.
Golongan II: memiliki khasiat untuk pengobatan serta dapat dignakan dalam terapi ataupun untuk pengembangan ilmu pngetahuan. Dan memiliki potensi ketergantungan yang kuat. Contohnya adalah rilatin, fensiklidin, metamfetamin, dan amfetamine.
Golongan III: psitropika jenis ini memiliki daya adiksi yang sedang dan dapat digunakan untuk pengobatan serta untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Contohnya adalah buprenorsina, lumibal, dan fleenitrazepam.
Golongan IV: psitropika jenis ini memiliki daya adiksi yang ringan serta dapat digunakan untuk pengobatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Contohnya adalah diaxepam dan nitrazepam. Dalam ilmu famakologi, psikotropika digolongkan kedalam tiga golongan yaitudepresan, stimulan, dan halusinogen.
Zat Adiktif Lainnya
Zat adiktif lainnya merupakan zat-zat selain narkotika dan psitropika yang dapat menimbulkan ketergantungan baik secara fisik maupun mental. Contohnya alkohol, rokok atau tembakau, thiner dan zat lainnya, seperti aseton, cat, bensin, lem, dan penghapus cair yang apabila dihirup dapat membukan.
Faktor Penyalahgunaan Narkoba
Menurut Libertus Jehani dan Antoro (2006), penyebab seseorang terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.
Faktor Internal
Kepribadian seseorang dengan kepribadian yang labil, kurang baik, dan mudah terpengaruh oleh orang lain akan lebih mudah terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba.
Keluarga, jika seseorang memiliki keluarga dengan hubungan yang kurang harmonis makan akan mengakibatkan orang tersebut menjadi mudah putus asa dan frustasi.
Ekonomi, sulitnya mencari pekerjaan dapat menimbulkan keinginan seseorang untuk bekerja sebagai pengedar narkoba. Akan tetapi seseorang dengan keadaan ekonomi yang cukup pun tetap dapat terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba ketika mereka kurang mendapatkan perhatian dari keluarga atau masuk ke dalam lingkungan yang salah.
Faktor Eksternal
Pergaulan Teman sebaya memiliki pengaruh yang cukup kuat pada perilaku seseorang terutama remaja yang memiliki mental dan kepribadian yang cukup lemah. Oleh karena itu para remaja dapat dengan mudah terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.
Sosial atau Masyarakat Lingkungan sosial atau lingkungan masyarakat yang tidak baik, cenderung apatis, dan tidak memperdulikan keadaan lingkungan sekitar dapat menjadi penyebab marknya penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja.
Dampak Penyalahgunaan Narkoba
Bila diperinci satu persatu, penyalhgunaan narkoba memiliki dampak yang sangat banyak dan kebanyakan berdampak negatif. Secara umum, dampak penyalahgunaan narkoba dapat terlihat secara fisik, psikis bahkan sosial seseorang.
Dampak Terhadap Fisik
Ada banyak dampak penyalahgunaan narkoba terhadap fisik penggunanya, diantaranya adalah gangguang pada sister saraf (neurologis), gangguan jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), gangguan pada kulit (dermatologis), gangguan pada paru-paru (pulmoner), gangguan kesehatan reproduksi, sakit kepala, mual-mual dan muntah-muntah, peningkatan suhu tubuh, pengecilan hati dan kesulitan tidur.
Penggunaan narkoba melalui jarum suntik terutama yang dipakai secara bergiliran dapat menimbulkan risiko penularan penyakit menulr seperti Hepatitis B, C, dan HIV. Penyalahgunaan narkoba pun bisa berakibat fatal apabila terjadi overdosis.
Dampak Terhadap Psikis
Beberapa dampak psikis yang akan dirasakan oleh para pengguna narkoba diantaranya adalah hilangnya kepercayaan diri, sering tegang dan geilisah, penuh curiga, kesulitan berkonsentrasi, penuh curiga, perasaan kesal dan tertekan, merasa tidak aman, dan cenderung menyakiti diri sendiri bahkan sampai bunuh diri.
Dampak pada lingkungan sosial Selain berdampak pada fisik dan psikis seseorang, penyalahgunaan narkoba juga dapat berdampak pada lingkungan sosial seseorang diantaranya adalah anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan masyarakat, menjadi beban keluarga dan masa depan menjadi suram.
Peran Orang tua
Orang tua memiliki peran penting dalam membimbing serta mendampingi anak-anak mereka, baik dalam pendidikan formal ataupun pendidikan non-formal. Peran orang tua dapat memengaruhi perkembangan anak dalam aspek kognitif, efektif, dan psikomotori. Lestari (2012) menyatakan bahwa peran oragtua adalah cara yang digunakan oleh orang tua yang berkaitan dengan pandangan mengenai apa saja yang harus dilakukan dalam mengasuh anak.
Sementara menurut Hadi (2016) orang tua memiliki kewajiban dan juga tanggung jawab untuk mengasuh, mendidik, memelihara, dan melindungi anak. Dalam keluarga, orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan anak.
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan paling pertama yang sering dijumpai oleh anak. oleh karena itu lingkungan keluarga akan sangat memengaruhi perilaku anak. Maka dari itu, orang tua harus memberikan bimbingan serta memberi contoh yang baik pada anak.
Orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Adapun indikator peran orang tua dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba, diantaranya adalah:
Komunikasi Efektif
Diperlukan komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak. Orang tua harus mendegarkan secara aktif serta menunjukan kasih sayang dan perhatian terhadap anak. Ketika anak mencurahkan isi hatinya orang tua harus menghindari sikap menghakimi, merasa benar sendiri, terlalu banyak memberi nasihat seolah-olah mengetahui semua jawaban, menganggap enteng persoalan yang dihadapi oleh anak, serta menghindari penggunaan kata-kata negatif.
Mengembangkan Nilai Positif Pada Anak
Mengembangkan nilai positif pada anak dengan cara mengajarkan anak membedakan mana yang baik dan yamh buruk, yang benar dan yang salah sejak dini. Hal tersebut memungkinkan anak berani untuk mengambil keputusan atas dorongan hati nuraninya, bukan karena bujukan atau tekanan teman.
Membangun Kenyaman dalam Keluarga Permasalahan dalam keluarga dapat menjadi faktor utama anak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Konflik yang berlarut-larut akan menyebabkan anak merasakan suasana ketegangan dengan orang tua.
Oleh karena itu perlu menciptakan suasana yang damai dalam keluarga sehingga anak akan merasa lebih terarah dan merasa nyaman.
Menjadikan Orang tua Sebagai Teladan dalam Keluarga
Orang tua wajib membuat dasar perkembangan kepribadian yang kokoh bagi anak, dengan cara menunjukan keteladanan, memiliki norma yang jelas mengenai baik dan buruk serta benar dan salah, tidak banyak menuntut anak, dan membimbing anak dengan kasih sayang serta kepedulian.**
NAMA : NUR PAZIRA
NIM : 1604051
JURUSAN : S1-FARMASI, UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA
TUGAS : PUBLISH ARTIKEL

