Site icon Padang Expo

Urgensi Memahami Sumbang 12  Bagi Perempuan Minangkabau yang Tercermin dari Ukiran Sikambang Manih

| padangexpo.com (Tanah Datar)

Kambang manih bungo nan mulia

Timbalan bungo sari manjari

Dicaliah gunung maha biru

Batangkai babuah labek

Balingka baaka cino

Silang bapiuah di salo daun

Buah manih satandan labek

Mainan bundo, simpanan puti

Panyaru dagang di rantau

Pananti alek nan datang

Ukia diulak Tanjuang Bungo

Pakaian Ranah Minangkabau

Latak di muko adaok halaman

Ukia nan tagak surang

Puti bakuruan jo aturan

Baitu warih di Gudam Balai Janggo

Kambang tigo buatan tukang

Indah di dalam maliputi

Adat nan nyato bakambangan

Ukiran Sikambang Manih di ibaratkan setangkai bunga yang sedang mekar yang terlihat sangat indah dan menyejukkan mata.  Ukiran ini memiliki nilai estetika sebuah karya seni ukiran. Motif ini pada rumah gadang terdapat pada dinding tepi dan jendela. Motif ukiran  ini melambangkan keramahtamahan, sopan santun dan senang dalam menerima tamu.  Untuk menggambarkan keindahan perempuan minangkabau yang tercermin pada ukiran sikumbang manih, maka perempuan minangkabau harus memahami dan menjauhi larangan sebagai wanita minangkabau. Sikap yang terinternaslisasi dan melekat pada perempuan minagkabau adalah pancaran dari keindahan yang dimiliki seorang perempuan minangkabau. Keindahannya tercermin dari akhlak, sikap, serta penampilan perempuan minangkabau.

Di suku Minangkabau perempuan   seharusnya sangat bangga dilahirkan sebagai perempuan karena perempuan diminangkabau diberi kedudukan yang istimewa sebagai Bundo Kanduang atau calon Bundo kanduang. Namun begitu tidak semua perempuan minang bisa menjadi Bundo kanduang,karna sebagai Bundo kanduang dia haruslah menjadi panutan bagi kaumnya,oleh karna itu di Minangkabau mempunyai aturan-aturan tersendiri bagi perempuan dalam berprilaku,berpakaian dan bergaul,agar bisa menunjukan identitasnya sebagai perempuan Minangkabau.

Sebagai suku yang memegang paham matrilineal, Minangkabau meletakkan perempuan dalam posisi yang sangat istimewa. Perempuan di minangkabau sangat dihormati. Perempuan memiliki tempat dan hak suara di dalam kaum. Pendapatnya didengar, pertimbangannya diperlukan, maka perempuan benar-benar mempunyai nilai. Jika kita larikan ke falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah penghormatan Minangkabau terhadap perempuan selaras dengan penghormatan syarak/agama Islam terhadap perempuan, sebagaimana termaktubnya surat khusus bernama An-Nisa (perempuan) dalam Al-Qur’an.

 Keistimewaan yang diberikan kepada kaum perempuan  itu tentu harus diikuti dengan serangkaian usaha untuk menjaganya. karna, sesuatu yang istimewa adalah sesuatu yang harus dijaga dan dipelihara sebaik mungkin. Oleh karena itu, para pendahulu menetapkan aturan atau pendidikan terhadap anak-anak yang perempuan agar tetap menjaga keistimewaan mereka miliki. Nuansa pendidikan itu disebut dengan sumbang, yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Sumbang ini terdiri dari 12 poin yang bisa kita sebut sebagai sumabang 12, yang merupakan budaya terlarang bagi perempuan Minangkabau, berarti kebiasaan yang tidak boleh dilakukan oleh perempuan Minangkabau demi menjaga warisan budaya minangkabau. Yang pertama, Sumbang Duduak maksudnya  Duduk yang sopan bagi perempuan Minang adalah bersimpuh, bukan bersila macam laki-laki, apalagi mencangkung atau menegakkan lutut. Ketika duduk di atas kursi duduklah dengan menyamping, rapatkan paha. Jika berboncengan jangan mengangkang. Kedua, Sumbang Tagak maksudnya Perempuan Minangkabau dilarang berdiri di depan pintu atau di tangga. Jangan berdiri di pinggir jalan jika tidak ada yang dinanti. Sumbang berdiri dengan laki yang bukan muhrim. Ketiga,Sumbang Jalan maksudnya Ketika berjalan perempuan Minang harus berkawan,. tidak boleh jalan sendiri. Jangan berjalan tergesa-gesa apalagi mendongkak-dongkak. Jika berjalan dengan laki-laki berjalanlah di belakang. Jangan menghalagi jalan ketika bersama dengan teman sebaya.

Keempat Sumbang Kato maksudnya Berkatalah dengan lemah lembut, berkatalah sedikit-sedikit agar paham maksudnya, jangan serupa murai batu atau serupa air terjun Jangan menyela atau memotong perkataan orang, dengarkanlah dulu hingga selesai. Berkata-katalah yang baik. Kelima Sumbang Caliak maksudnya  Kurang tertib seorang wanita Minang ketika suka menantang pandangan lawan jenis, alihkanlah pandangan pada yang lain atau menunduk dan melihat ke bawah. Dilarang sering melihat jam ketika ada tamu. Jangan suka mematut diri sendiri.Keenam, Sumbang Makan maksudnya  Jangan makan sambil berdiri, nyampang makan dengan tangan genggamlah nasi dengan ujung jari, bawa ke mulut pelan-pelan dan jangan membuka mulut lebar-lebar Ketika makan dengan sendok jangan sampai sendok beradu dengan gigi. Ingat-ingat dalam bertambah (batambuah). Ketujuh,Sumbang Pakai maksudnya  Jangan mengenakan baju yang sempit dan jarang. Tidak boleh yang menampakkan rahasia tubuh apalagi yang tersimbah atas dan bawah. Gunakanlah baju yang longgar, serasikan dengan warna kulit dan kondisi yang tepat, agar rancak dipandang mata.

Kedelapan, Sumbang Karajo maksudnya Profesi/pekerjaan perempuan Minang adalah yang ringan serta tidak rumit.Pekerjaan sulit serahkanlah pada kaum laki-laki. Jika kerja di kantor yang rancak adalah menjadi guru.Kesembilan Sumbang Tanyo maksudnya  Jangan bertanya macam menguji. Bertanyalah dengan lemah lembut. Simak lebih dahulu baik-baik dan bertanyalah jelas-jelas. Kesepuluh, Sumbang Jawek maksudnya  Ketika menjawab, jawablah dengan baik, jangan jawab asal pertanyaan, jawablah sekadar yang perlu dijawab tinggalkan yang tidak perlu.Kesebelas, Sumbang Bagaua maksudnya  Jangan bergaul dengan laki-laki jika hanya diri sendiri yang wanita. Jangan bergaul dengan anak kecil apalagi ketika ikut permainan mereka. Peliharalah lidah dalam bergaul.   Ikhlaslah dalam menolong agar senang teman dengan kita.Kedua belas, Sumbang Kurenah maksudnya  Tidak baik berbisik-bisik saat tengah bersama. Jangan menutup hidung di keramaian.   Jangan tertawa di atas penderitaan orang lain, apalagi hingga terbahak-bahak. Jika bercanda, secukupnya saja dan diagak-agak, agar tidak tersinggung orang yang mendengar.   Jagalah kepercayaan orang lain, jangan seperti musang yang berbulu ayam.

Keistimewaan tentu harus dijaga dengan usaha yang ekstra. berlian yang dikurung di etalase kaca anti pecah dan bergembok, tak sembarang orang bisa menyentuhnya. Perempuan Minangkabau sangat berharga, bahkan jauh lebih berharga dari berlian yang dicontohkan itu Berharganya dan istimewanya mereka selaras dengan harga diri yang perlu mereka pertahankan dengan teguh. (dody)

Exit mobile version