Membincangkan Surau Sarangkuah Dayuang di Muaro Paneh
Oleh: Risko M. Rajo Lelo, SH
padangexpo.com | Kala itu, pada tahun 2021, waktu Covid 19 masih melanda namun sudah hampir reda, saya menikah dengan isteri saya, Nofia Delvina, S.Pd. Pernikahan saya dilangsungkan di kediaman mempelai wanita di Sungai Nanam. Acaranya berlangsung khidmat dan lancar.
Hadir dalam prosesi ijab kabul itu kedua orangtua saya dan kedua orangtua sang isteri. Turut hadir mamak saya, Zufri Rajo Indo dan Mamak dari sang isteri. Sebagai saksi pernikahan ada Mamak saya Zufri Rajo Indo dan Surya Dinata dari pihak sang isteri. Kami menikah disaksikan oleh banyak orang diatas rumah, bahkan saking banyaknya, orang sampai berdiri di halaman dan teras rumah, mereka mengintip dari balik kaca yang tidak terlalu gelap itu.
Usai menikahi sang isteri, saya hidup sebagai seorang petani yang mengelola perkebunan di Sungai Nanam. Lahannya milik isteri, disana saya menanam cabe dan kol sekaligus kentang dan bawang, begitu seterusnya secara bergantian. Kadang saya menanam cabe, kadang saya menanam bawang dan sesekali menanam kentang maupun umbi-umbian yang lain. Disamping bercocok tanam, saya juga tetap melakoni profesi sebagai Advokat. Hanya saja, sejak menikah saya lebih sibuk di kediaman sang isteri sebagaimana kebiasaan masyarakat adat Minangkabau pada umumnya.
Ketika itu, diwaktu awal-awal pasca menikah, saya sering di undang untuk menghadiri prosesi adat oleh masyarakat sekitar. Karena mendapat undangan dan dipanggil secara adat, saya memenuhi undangan tersebut. Akan tetapi, ada suatu hal yang tidak biasa disaat saya menghadiri acara itu, yaitu hampir setiap orang yang hadir di sambah (diajak bermusyawarah untuk mufakat,-red) secara adat sebelum memutuskan suatu hal. Beruntung, saya belum mendapatkan kesempatan yang akhirnya membuat saya lepas dari itu.
Namun demikian, kala itu saya berfikir, sebagai Sumando di Sungai Nanam, saya tentu tidak bisa terus mengelak, lari dari musyawarah untuk mufakat itu. Akhirnya, saya pulang ke Muara Panas menemui mamak dan menceritakan perihal itu pada beliau. Oleh mamak, saya kemudian dikatakan bahwa saya sebenarnya sudah diberi gelar adat, yaitu Rajo Lelo.
Gelar adat itu diberikan atas kepercayaan kaum suku Caniago pada saya, tinggal bagaimana saya membawakannya, salah satunya dalam acara adat. Oleh karena demikian, saya kemudian meminta kesediaan mamak agar mengajarkan saya seputar adat.
Karena ketika itu saya yang meminta, beliau menyanggupi dan meminta saya datang kerumah sekali dalam seminggu khusus untuk belajar adat. Karena sudah ada petunjuk, akhirnya saya menurut karena di Minangkabau itu kamanakan saparentah mamak.
Mulailah saya belajar seminggu setelahnya dan berlanjut tiap minggu. Awalnya, saya belajar sendiri, kemudian hari ada pula yang ikut belajar diantaranya ada Edwin Sutan Pamenan, ada M. Nasir Malin Parmato, Agusman Rajo Kaciek dan Damri serta Hasanul Ridwan. Karena sudah memiliki anggota, saya kemudian mengusulkan kalau tempat belajar adat ini diberi nama yang nama itu diusulkan oleh semua anggota untuk disepakati bersama dalam suatu musyawarah.
Akhirnya, pada hari Sabtu tanggal 08 Oktober 2022 tercetuslah nama Sarangkuah Dayuang dari usulan saya yang disepakati untuk nama surau atau tempat belajar adat ini, kedudukannya langsung di Balai Pinang yakni di kediaman mamak Zufri Rajo Indo. Sejak hari itu, anggota Sarangkuah Dayuang terus bertambah dan mendapat sambutan positif dari segenap lapisan masyarakat.
Saya masih ingat bahwa Wakil Bupati Solok periode 2019-2024 Bapak Jon Firman Pandu Pono Manih dan Ketua LKAAM Kabupaten Solok periode 2018-2023 H. Gusmal Dt. Rajo Lelo, SE, MM yang sedang menjalankan ibadah umrah di tanah suci Mekah memberikan sambutan dan apresiasi untuk surau ini.
Sebelumnya, Sekretaris DPD Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Solok, Ari Rafika WD Malin Sulaiman juga mengirimkan visual ucapan selamat atas terbentuknya Sarangkuah Dayuang. Selain beliau, ada juga ucapan selamat buat Sarangkuah dayuang dari Sumiki Kamel Sutan Palembang yang merupakan Wali Nagari Kumanis di Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung.
Ucapan selamat dan apresiasi dari semua pihak itu menjadi penyemangat bagi anggota Sarangkuah Dayuang untuk meningkatkan kreatifitas dalam belajar adat.
Aktifitas rutin Sarangkuah Dayuang kemudian menjadi berkembang, disana juga belajar tentang Agama Islam. Soal Agama, surau Sarangkuah Dayuang juga menjadikan setiap anggota untuk menjadi orang yang cakap. Sebab, selain praktek ibadah dan salat, disana juga menjadi tempat belajar untuk mereka yang mau mempelajari tata cara menjadi penyelenggara jenazah apabila ada suatu kematian, memberikan sepatah dua patah kata ahli waris dalam Takziah dan lain sebagainya. Karena aktifitas yang seperti itu tentu harapan besar tertumpah pada surau Sarangkuah Dayuang yakni harapan supaya Sarangkuah Dayuang kelak menjadi Pusat Pendidikan Adat di Nagari Muaro Paneh. Semoga.**
