Seminar Nasional Bukittinggi Kota Perjuangan, Prof. Anhar Gonggong : Bukittinggi Kota Perjuangan dalam Kenyataan Kedaruratan Republik

Seminar Nasional Bukittinggi Kota Perjuangan, Prof. Anhar Gonggong : Bukittinggi Kota Perjuangan dalam Kenyataan Kedaruratan Republik

Bukittinggi, Padang Expo

Dalam rangka memperingati seratus tahun Jam Gadang, Pemerintah Kota Bukittinggi bersama Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi gelar Seminar Nasional Bukittinggi Kota Perjuangan. Kegiatan ini dilaksanakan di Balairung Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, Kamis (18/06-2026).

Gubernur Sumatera Barat yang diwakili Staf Ahli Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan, Jasman, menyampaikan,  peringatan 100 Tahun Jam Gadang merupakan momentum penting untuk mengenang sejarah dan menghormati perjalanan panjang perjuangan bangsa.

“Sejak berdiri pada 20 Juni 1926, Jam Gadang telah berkembang menjadi identitas, kebanggaan, sekaligus simbol sejarah Kota Bukittinggi yang menjadi saksi berbagai fase perjalanan bangsa hingga era pembangunan saat ini,” ujar Jasman.

Sementara itu, Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, mengatakan, peringatan 100 Tahun Jam Gadang ini bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk mengangkat kembali sejarah perjuangan bangsa yang tidak bisa dipisahkan dari Bukittinggi.

“Kota ini pernah menjadi ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan menjadi penyelamat eksistensi Republik Indonesia saat masa krisis.

Karena itu, Bukittinggi sangat layak menyandang predikat Kota Perjuangan, bahkan menjadi daerah yang memiliki khusus berdasarkan nilai sejarah yang dimilikinya,” kata Ramlan Nurmatias.

Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan, Agus Mulyana ko, menyampaikan, apresiasi kepada Pemko Bukittinggi yang dinilai memiliki kepedulian besar terhadap pelestarian sejarah. Tidak banyak daerah yang secara konsisten menggelar kegiatan untuk mengangkat kembali peran daerahnya dalam perjalanan sejarah bangsa.

“Bukittinggi memiliki posisi penting dalam sejarah Indonesia, baik sebagai kota yang berkembang pada masa kolonial maupun sebagai pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) saat masa revolusi kemerdekaan,” ujar Agus Mulyana.

Tan Sri Dato’ Seri Utama Dr. Rais Yatim, menyampaikan, Jam Gadang dapat dimaknai sebagai simbol yang mengingatkan masyarakat untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan budaya Minangkabau.

BACA JUGA :  Penyerahan 64 SK dan Pelantikan Jabatan Fungsional PPPK Teknis di lingkungan Pemko Bukittinggi

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, berikan dukungan penuh terhadap Kota Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan. Dukungan itu dibacakan Kepala Dinas Kebudayaan DIY.

Tema Seminar ini, ketika Republik tak boleh padam, adalah deskripsi faktual atas apa yang terjadi pada tanggal 19 Desember 1948. Ketika Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, nyala Republik tidak padam, ia dipindahkan di sini di Bukittinggi inilah yang menjaga tetap menyala.

“Dalam karyanya Imagine community, bangsa adalah komunitas yang dibayangkan bersama.  Namun justru dalam krisis itulah, imajinasi kebangsaan itu diuji dan dikristalkan menjadi tindakan nyata. PDRI adalah bukti terkuat bahwa imajinasi kebangsaan Indonesia adalah kenyataan yang diperjuangkan dengan darah dan keberanian,” ujar Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Semenyara itu, Prof. Anhar Gonggong : Bukittinggi Kota Perjuangan dalam Kenyataan Kedaruratan Republik.

Harus diingat, kata perjuangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan itu berada di semua kota. Nah persoalannya, apa khas nya Bukittinggi dibanding dengan kota-kota yang lain, sehingga dia mempunyai hak yang berbeda dengan harga dari kota-kota yang lain itu? Kalau saya ditanya, maka saya akan mengatakan, Kota Bukittinggi kota perjuangan dalam kenyataan kedaruratan Republik. Itu yang membedakannya dari daerah lain.

“Saya katakan Bukittinggi adalah ibukota atau kota yang punya kekhasan. Dan saya mendukung anda (walikota -red) dalam memperjuangan kota istimewa. Saya tentu tidak mungkin menyalahi kenyataan sejarah, bahwa Bukittinggi, memiliki sikap, memiliki kenyataan yang berbeda dengan daerah-daerah lain, dengan kota-kota lain, dibanding dengan kota-kota di dalam periode kemerdekaan itu. Khasnya ada dan tidak akan pernah ada yang menyamainya,” ujar Prof. Anhar Gonggong. (Rls/Fadhil)