Larangan Ekspor Kelapa Sawit Pengaruhi Hasil Panen Plasma Sawit Masyarakat Kabupaten Solsel

Larangan Ekspor Kelapa Sawit Pengaruhi Hasil Panen Plasma Sawit Masyarakat Kabupaten Solsel

| padangexpo.com (Solok Selatan)

Semenjak diberlakukannya larangan ekspor kelapa sawit oleh Pemerintah Pusat, hingga kini sangat mempengaruhi terhadap hasil panen plasma sawit masyarakat di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat.

Ratusan dumtruk pengangkut Tandan Buah Segara (TBS) kelapa sawit terlihat antrian dalam memasok hasil panen plasma sawit masyarakat ke pabrik PT. Kencana Sawit Indonesia (KSI).

Namun pabrik perusahaan kelapa sawit yang berinvestasi di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat tersebut belum mampu menampung seluruh hasil panen masyarakat. Lantaran kapasitas tampung dan pengelolahan pabrik sudah over kapasitas.

“Kapasitas pengolahan pabrik kita hanya 45 ton perjam, namun pasokan sawit hasil panen lokal yang datang sudah overkapasitas. Perharinya mencapai 1.500-2.000 ton,” ungkap Humas PT. KSI Solok Selatan, Arva, Selasa (31/5/2022) di kantornya.

Sawit yang akan di pasok ke Pabrik PT. KSI tidak hanya datang dari sejumlah daerah di Solok Selatan, akan tetapi juga berdatangan dari Kabupaten Dharmasraya dan Provinsi Jambi.

Diakuinya dengan tingginya hasil panen lokal, banyak yang tidak bisa diakomodir perusahaan karena melebihi kebutuhan pabrik.

Mudahan saja jika sudah diterbitkan aturan ekspor sawit ke luar negeri oleh Pemerintah, sehingga harga sawit normal kembali dan daya tampung lebih banyak lagi.

“Memang TBS yang masuk banyak yang ditolak. Karena kondisi pabrik yang hanya kisaran 360-400 ton mampu melakukan pengolahan buah per harinya atau 45 ton per jam,” tuturnya.

Dia menyebut buah lokal meningkat, dan planning masyarakat sangat bagus dalam memprediksi panen sawit didukung harga yang bagus.

Saat harga panen harga bagus, tentu saja berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Yang sekarang buah turun sejak disetopnya ekspor sawit ke luar negeri oleh Pemerintah Pusat.

BACA JUGA :  Kejari Solsel Kembali Antarkan OKBER DONDA (OD) ke Rutan Kelas 2 Muara Labuh

Sebelum anjlok, harga sawit di Kabupaten Solok Selatan kisaran 3.460-3.500 perkilogram.

“Jika harga tidak anjlok, maka masyarakat akan sejahtera dengan tingginya angka produksi di tahun 2022 ini,” jelas Arva.

PT. KSI sendiri katanya mengalami penyusutan produksi karena dilakukan langkah replanting.

Dari 10.216 hektar Hak Guna Usaha (HGU), perusahaan dibawah naungan Wilmar Group ini telah menanam sekitar 7.800 hektar sawit. Sisanya konservasi. (Syahril)