Makna Ukiran Pada Istano Basa Pagaruyung
Penulis: Anggit Dwi Prayoga
Istano Basa Pagaruyung di penuhi berbagai ukiran, mulai dari lantai 1, lantai 2 dan lantai 3 dan juga terdapat pada dinding dalam dan luar Istano Basa Pagaruyung. Menurut hasil penelitian Tim Universitas Bung Hatta, motif ukiran bertebaran seantero alam Minangkabau yang berjumlah 214 motif ukiran. Di Istano Basa Pagaruyung ukiran yang dimanfaatkan berjumlah 40 motif ukiran. Dalam memajangkan motif ukiran di Rumah Gadang tidak boleh melanggar kearifan lokal dan nama, makna serta tata letak harus tersusun secara benar, jujur dan rapi.
Berikut beberapa ukuran yang ada pada Istano Basa Pagaruyung:
- Sajamba Makan
- Tirai Ampek Angkek
- Tirai 2
- Ukiran 150 tahun
- Tantadu Manyasok Bungo
- Suriah Gadang
- Aka Satangah Gadang
- Aka Sagagang
- Aka Tangah Duo Gagang
- Kudo Manyipak
- Bungo Saik Ajik
- Pisang Sasikek
- Itiak Pulang Patang
- Aka Cino Manjala
- Jalo Taserak
- Jalo Taserak 2
- Kaluak Paku
- Aka Barayun
- Kambang Manih
- Labah Mangirok
- Mahkota
- Daun Bodi
- Bungo Taratai Dalam Aie
- Saluak Laka
- Bada Mudiak
- Lapiah Jarami
- Kudo Mandongkak
- Si Kambang Manih 1
- Si Kambang Manih 2
- Si Kambang Manih 3
- Si Kambang Manih 4
- Si Kambang Manih 5
- Aka Cino Mamanjek
- Aka Cino Sagagang
- Kipeh Kipeh
- Pucuak Rabuang
- Buah Palo Bapatah
- Bungo Satangkai
- Tupai Managun
- Sisondak Langik
Sebagai contoh, salah satu motif ukiran yang mengandung makna seperti Aka Cino Sagagang, yang artinya “aka” dalam bahasa Minangkabau dapat berarti akar tumbuhan yaitu sejenis akar yang merambat dan dapat pula berarti akal atau daya pikir. Sedangkan Cino berasal dari kata cina yang merupakan nama bangsa dan negara di Asia Timur yang penduduknya suka merantau. Bangsa Cina yang suka merantau ke negara lain termasuk orang yang kuat, gigih dan ulet, karena hidup di rantau orang membutuhkan pikiran untuk mencapai tujuan hidup. Dengan akal pikirnya mereka berjuang untuk hidup, sebagai pedagang ataupun pekerja.
Sementara aka sebagai akar tumbuhan yang merambat yang saling berkaitan dan bersambung, juga melambangkan suatu kedinamisan hidup yang gigih dan ulet dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Motif aka Cino ini termasuk motif ukiran pengisi papan bidang kecil pada rumah gadang di Minangkabau, seperti pada dinding ari antara papan sakapiang (papan bidang besar), bandua, dan bagian atas pintu. Bentuk yang sederhana dari motif aka cino juga banyak menghiasi benda atau peralatan sehari-hari seperti labu cakiak atau tempat pembawa air minum dari pincuran/sumur ke rumah.
Sumber : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan
