Itiak Pulang Patang, Simbol Keselarasan dan Keharmonisan Dalam Tata Pemerintahan Minangkabau

Itiak Pulang Patang, Simbol Keselarasan dan Keharmonisan Dalam Tata Pemerintahan Minangkabau

| padangexpo.com (Tanah Datar)

Ditinjau dari nama ragam hias yang terdapat pada museum Istana Pagaruyung, ada tiga kelompok motif utama, yaitu;

  1. Motif yang berasal dari nama dan sifat tumbuh-tumbuhan.
  2. Motif dari nama dan sifat-sifat binatang
  3. Motif dari nama benda yang dipakai sehari-hari.

Motif-motif ukiran yang diaplikasikan pada museum pada umumnya sudah mengalami penggunaan ( stimulasi) sehingga tidak menyerupai bentuk aslinya sesuai dengan nama motif tersebut.

Motif “Itiak Pulang Patang” (itik pulang petang) merupakan penjelmaan dari tata kehidupan masyarakat menurut adat Minangkabau. Motif Itiak Pulang Patang dapat dilihat pada pintu,pintu angin, atas jendela dan Singok (dinding bagian atas) museum.

Falsafah kehidupan itik ini dituangkan kedalaman motif atau corak Itiak Pulang Patang. Kehidupan itik digambarkan sebagai masyarakat yang suka hidup damai, saling kasih mengasihi dan menyayangi.

Secara anatomi, itik adalah binatang yang lemah,biasanya hidup berkelompok dan sangat kukuh dalam kebersamaan. Itik mencari makan di air, sawah atau rawa-rawa secara bersama. Apabila berjalan dipematang sawah,itik akan berjalan tertib dan tidak saling dahulu mendahului. Tetapi apabila ada seekor itik yang jatuh,maka itik – itik yang lain akan turun bersama menjemput temannya.

Itik juga terkenal sangat gigih dalam mencari makan dari pagi hingga petang. Apabila telah dilepas dari kandang, itik akan berlarian menuju kolam,sawah,atau rawa untuk mencari makan. Namun sebaliknya ketika sudah kenyang mereka akan santai dan berjalan tertib menuju kandang.

Konsep hidup bersama dan saling tolong menolong sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat tradisional Minangkabau. Segala sesuatu keputusan yang menyangkut kehidupan orang banyak sangat dipikirkan termasuk kesejahteraan masyarakatnya. Dalam mencari nafkah,sesama saudara atau kawan tidak perlu saling sikut-menyikut dan saling menyingkirkan.

BACA JUGA :  Tunaikan Janji, Bupati Eka Putra Serahkan Bantuan BLT dan Beras Kepada Korban Erupsi

Kedamaian hidup bersama ini mereka ambil dari falsafah kehidupan itik yang diaplikasikan ke dalam motif Itiak Pulang Patang. Falsafah kehidupan yang damai menjadi tauladan kehidupan bersama dibawah satu atap dan satu payung adat.

Kehidupan satu payung adat ini terlihat apabila ada pimpinan adat atau penghulu mereka yang meninggal maka mereka sama-sama berkewajiban mengangkat kembali penghulu yang baru dengan musyawarah dan bergotong-royong tanpa ada yang merasa lebih pintar,lebih kaya atau lebih mampu dari yang lain. Kebersamaan ini menjadi awal terlaksananya acara Batagak Pangulu (pemberian gelar/penobatan) yang kemudian dilanjutkan dengan acara bakaua-kaua (makan bersama).

Itiak Pulang Patang, juga menggambarkan tata pergaulan anak gadis di Minangkabau yang memang posisinya ditinggikan. Maknanya,apabila ada seorang gadis yang pulang larut malam maka akan menjadi malu dan aib bagi keluarga serta kaumnya.

Dari segi sistem pemerintahan, motif ukiran Itiak Pulang Patang bermakna keselarasan dan keharmonisan. Tata pemerintahan yang ditetapkan adalah tata pemerintahan yang rapi dan tertata sesuai kesepakatan.

Motif ini juga bermakna hubungan sinetgis antara mamak ( paman) dan kamanakan ( keponakan). Dimana kamanakan akan selalu mengikuti kebijakan sang mamak selama tidak bertentangan dengan agama dan adat.(Dwi)

Narasumber: Dinas Parpora Tanah Datar