Simalakama MBG, Sekitar 100 Orang Terindikasi Keracunan Massal di Lubuk Basung

Simalakama MBG, Sekitar 100 Orang Terindikasi Keracunan Massal di Lubuk Basung

padangexpo.com | Lubuk Basung, Agam

Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat diguncang kabar memilukan. Sebanyak 86 orang terindikasi mengalami keracunan usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (1/10/2025).

Data resmi Dinas Kominfo Agam mencatat, korban terdiri dari 6 guru, 2 orang tua murid, 57 murid, serta 21 orang lainnya yang masih dalam kategori belum melaporkan secara rinci.

Rasa sakit perut, pusing, hingga muntah-muntah menjadi gejala yang sama-sama dirasakan. Di balik angka itu, ada kisah nyata tentang anak-anak sekolah yang seharusnya pulang dengan senyum, justru berakhir di rumah sakit. Ada guru yang mestinya mengajar, malah terbaring lemah dengan infus di tangan.

Keracunan massal ini bukan hanya soal angka statistik, melainkan tragedi kemanusiaan yang menggugah nurani. Apa arti sebuah program bergizi jika justru menimbulkan penyakit dan apa makna memberi makan gratis, jika akhirnya harus ditebus dengan rasa sakit dan trauma?

Fenomena ini seharusnya menjadi cermin, bahwa niat baik saja tidak cukup tanpa pengawasan ketat dan sistem yang matang. Program makan gratis memang lahir dari kepedulian, tetapi pelaksanaannya tidak boleh dipaksakan jika justru berulang kali menimbulkan risiko kesehatan.

Apa yang terjadi di Agam hanyalah satu potret dari rentetan kasus serupa di berbagai daerah Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, kasus keracunan massal akibat program serupa juga ditemukan di sejumlah kabupaten dan kota. Dari Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Sulawesi, berita serupa terus berulang. Puluhan murid jatuh sakit usai menyantap makanan yang seharusnya menyehatkan.

Sampai kapan kita akan membiarkan hal ini terjadi, sementara program harus tetap berjalan hanya karena kebanggaan dengan risiko mengintai anak-anak yang seharusnya dilindungi.

BACA JUGA :  Pantau Layanan Kesehatan, Kepala Dinkes Agam Hendri Rusdian Sidak ke Beberapa Puskesmas

Keracunan massal di Lubuk Basung adalah musibah yang seharusnya mengajak kita berhenti sejenak untuk merenung. Tidak perlu gengsi mengakui kekurangan. Tidak perlu memaksakan program yang masih menyimpan celah berbahaya. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik, melainkan nyawa generasi masa depan. Musibah ini semestinya menjadi titik balik. Lebih baik memperbaiki sistem dari hulu hingga hilir, dari dapur pengolahan, standar higienitas, rantai distribusi, hingga pengawasan lapangan, sebelum melanjutkan kembali.

Bupati Agam Benni Warlis menyatakan peristiwa ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Ia menegaskan pemerintah daerah bergerak cepat melakukan penanganan, mulai dari perawatan korban, pemeriksaan laboratorium, hingga menghentikan sementara operasional dapur MBG yang diduga menjadi sumber makanan.

“Keselamatan masyarakat adalah prioritas. Kita tidak boleh main-main dalam urusan pangan, apalagi untuk anak-anak kita,” ujarnya.

Di balik setiap piring nasi goreng, atau nasi dengan lauk pauk yang disajikan di sekolah, tersimpan tanggung jawab besar. Makanan bukan hanya hidangan pengisi perut, melainkan titipan kepercayaan orang tua kepada negara. Dan ketika kepercayaan itu patah karena musibah keracunan, maka wajar jika masyarakat meminta pemerintah untuk menata ulang dengan hati-hati, atau bahkan berhenti sementara sampai semuanya benar-benar siap.

Karena pada akhirnya, program makan gratis tidak akan berarti jika yang tersisa hanya rasa pahit di ingatan anak-anak.

Hingga berita ini diterbitkan (2/10), update info dilapangan, korban keracunan massal bertambah hingga mencapai lebih kurang 100 orang. (Anz/d79)