Dari Sampah ke Pasar Global: Tafsir Kartini ala Payakumbuh yang Menggerakkan Ekonomi dari Rumah
padangexpo.com // Payakumbuh
Di tengah peringatan Hari Kartini, Ketua TP-PKK Kota Payakumbuh, Eni Muis Zulmaeta, memilih jalur sunyi tapi berdampak: mengubah sampah menjadi mesin ekonomi keluarga.
“Sampah bukan beban, tapi peluang,” ujarnya, Selasa (21/04/2026).
Di Payakumbuh, gagasan itu tidak berhenti di wacana. Sampah organik diolah menjadi maggot, lalu dikembangkan lebih jauh menjadi pakan alternatif ternak unggas—solusi konkret untuk menekan biaya produksi peternak kecil yang selama ini tersedot hingga 70 persen hanya untuk pakan.
Program yang mulai berjalan di Mancang Labu, Payobasung ini membuka rantai ekonomi baru: dari pengelolaan limbah, budidaya maggot, hingga peternakan mandiri berbasis rumah tangga.
“Sekali bergerak, manfaatnya berlapis: lingkungan bersih, biaya turun, ekonomi jalan,” tegas Eni.
Tak berhenti di situ, sampah anorganik pun didorong menjadi produk bernilai seperti paving blok—mengubah limbah menjadi peluang usaha baru.
Di sisi lain, pemberdayaan perempuan juga digerakkan lewat sektor kerajinan. Melalui dasawisma, lahir produk rajutan yang tak lagi sekadar kerajinan rumahan. Tahun 2025, TP PKK Payakumbuh bahkan menggandeng The Sak untuk produksi 1.000 pouch per bulan—membuka akses pasar global bagi perajin lokal.
Hasilnya nyata: sebagian pengrajin sudah mencatat omzet puluhan juta rupiah dan menembus pasar internasional.
Bagi Eni, inilah wajah baru Kartini masa kini—bukan sekadar simbol emansipasi, tetapi perempuan yang mampu menggerakkan ekonomi dari hal paling sederhana.
“Perempuan harus jadi penggerak, bukan penonton. Dari yang dianggap remeh, kita bangun kekuatan,” ujarnya.
Di Payakumbuh, perubahan itu tidak datang dari proyek besar, tapi dari dapur, halaman rumah, dan tangan-tangan yang bekerja. Dari sampah yang diolah, benang yang dirajut—hingga lahir kemandirian yang nyata, bukan sekadar narasi(Ken)
