Dari Silaturahmi ke Tekanan Intelektual: Bupati Safni “Tagih” Peran Nyata Perantau Gonjong Limo
padangexpo.com // Limapuluh Kota
Hangatnya suasana halal bihalal Keluarga Gonjong Limo di Padang mendadak berubah menjadi forum serius penuh tekanan intelektual. Di balik nuansa kekeluargaan, para kepala daerah dan tokoh akademisi justru saling melempar pesan tegas: pembangunan kampung halaman tak bisa lagi bertumpu pada simbol dan nostalgia.
Kehadiran Safni Sikumbang, Vasco Ruseimy, Zulmaeta, dan Fadly Amran mempertegas bahwa forum ini bukan sekadar ajang temu kangen. Ini adalah panggung konsolidasi gagasan—bahkan bisa disebut “rapat besar” intelektual perantau Minang.
Di hadapan ratusan perantau dan kalangan akademisi, Safni menyampaikan pesan yang tak lagi diplomatis. Ia secara terbuka “menagih” kontribusi nyata dari para cendekiawan Minang di rantau.
“Kami butuh lebih dari sekadar kebanggaan. Kami butuh ide, inovasi, dan pemikiran strategis untuk menjawab tantangan pembangunan,” tegas Safni, menggarisbawahi bahwa potensi besar para profesor, peneliti, dan praktisi tak boleh berhenti sebagai status sosial semata.
Pernyataan itu menjadi semacam alarm keras: relasi antara kampung halaman dan perantau harus naik kelas—dari emosional menjadi fungsional.
Dalam forum yang juga dihadiri Efa Yonnedi dan Ganefri, Safni menekankan bahwa pembangunan hari ini tak lagi bisa berjalan dengan pola lama. Ia mendorong pendekatan berbasis riset, data, dan teknologi—wilayah yang justru menjadi “rumah” para akademisi.
“Jangan biarkan daerah berjalan sendiri. Hadirkan gagasan, konsep, bahkan kritik. Kami terbuka,” ujarnya, disambut tepuk tangan.
Nada optimisme datang dari Wakil Gubernur Vasco Ruseimy. Ia melihat kekuatan utama perantau Minangkabau terletak pada jaringan dan solidaritas—modal sosial yang selama ini terbukti mampu menggerakkan berbagai sektor.
“Kalau perantau Gonjong Limo kompak, pembangunan Sumatera Barat bukan lagi soal sulit,” katanya, memberi penekanan pada pentingnya konsolidasi kekuatan diaspora.
Namun di balik pujian itu, tersirat ekspektasi besar: kekompakan saja tidak cukup tanpa arah dan eksekusi.
Momentum “Bakumpua Basamo” ini pada akhirnya menegaskan satu hal—perantau bukan lagi sekadar penonton atau penyumbang dana seremonial. Mereka dituntut menjadi aktor strategis, penyumbang gagasan, bahkan pengkritik kebijakan.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perantau peduli, tetapi sejauh mana kepedulian itu diterjemahkan menjadi langkah konkret.
Jika tidak, forum-forum semacam ini berisiko berhenti sebagai tradisi tahunan—ramai, hangat, namun minim dampak nyata bagi kampung halaman(Ken)
