RASA dan PETARUNG

RASA dan PETARUNG

By: Anggit Dwi (Kuli Tinta)

RASA

Salah satu syarat menjadi seorang pemimpin menurut penulis adalah memiliki RASA. Di sini penulis ingin berbagi cerita dan pengalaman penulis sehari-hari sebagai seorang warga dan jurnalis di Kabupaten Tanah Datar.
Rasa adalah salah satu kunci sukses seorang pemimpin daerah untuk menjadikan daerah yang di pimpinnya sesuai dengan harapan dari masyarakat itu sendiri dan juga harapan dari pemimpin tersebut. Rasa ini penulis rasakan ketika pemimpin daerah saat ini sedang berkuasa, banyak hal pro dan kontra selama kepemimpinan kepala daerah saat ini terjadi, namun dengan rasa semua bisa teratasi dengan bijak.
Adalah Eka Putra, Bupati menjabat saat ini untuk kabupaten Tanah Datar, yang menurut penulis adalah salah satu Bupati terbaik yang di miliki masyarakat Tanah Datar yang mempunyai rasa dalam memimpin Tanah Datar. Mau tidak mau, suka tidak suka tidak bisa kita pungkiri hal tersebut. Itu terbukti dari apa yang di lakukan oleh Eka Putra dengan rasanya menjadikan salah satu Kabupaten terbaik tingkat Provinsi dan nasional. Selama dua tahun satu bulan kepemimpinanan Eka Putra sudah banyak predikat dan penghargaan di raih Tanah Datar. Banyak program unggulan yang di usung oleh Eka Putra yang menembus tingkat nasional, bersaing dengan kabupaten kota lainnya di Indonesia, seperti contoh program unggulan satu nagari satu event yang sudah mencapai level tertinggi di tingkat pusat, program lainnya yang tak kalah sensasinya yaitu satu rumah satu hafizh, woooww…keinginan untuk menjadikan Tanah Datar kabupaten penghapal Al Quran dengan target 50% penduduknya adalah penghapal Al-Qur’an, belum lagi bajak gratis yang sudah mampu berkompetisi dengan program kabupaten kota lainnya di tingkat nasional, satu kata yang penulis rasakan, luar biasa padahal baru seumur jagung, tapi karena rasa itu di kedepankan dalam memimpin, penulis applaus untuk hal tersebut.
Itu menunjukkan identitas siapa sebenarnya Eka Putra. FENOMENAL.
Namun rasa yang di miliki oleh Eka Putra di masyarakat Tanah Datar menimbulkan berbagai macam pro dan kontra, ranah spekulasi tentang RASA dari Eka Putra mengapung ke permukaan membuat cemas lawan politik dan antek-antek yang tidak menyukai Eka Putra. Berusaha menciptakan pembunuhan karakter mulai dari isu hoax hingga pembunuhan karakter menyatu untuk menumbangkan rasa yang di miliki Eka Putra, bukan Eka Putra yang di takuti oleh lawan politiknya, tapi rasa yg di miliki Eka Putra yang bisa membahayakan mereka.
Lalu, timbul pertanyaan dari hati kecil penulis, siapa sih Eka Putra ini, apa sih kelebihan dan kekurangannya sehingga menimbulkan momok bagi mereka yang tidak menyukainya?… Segudang pertanyaan berkecamuk di hati penulis, dan itu terjawab sudah secara perlahan ketika penulis ikut dalam kegiatan sehari-hari Eka Putra.
Ternyata eh ternyata, sosok Eka Putra yang menjadi kontroversi di dunia politik ternyata hanya seorang pemimpin yang bekerja secara IKLHAS, lugas, cerdas dan tidak neko-neko.
Oooaalaaaahh…ternyata itu toh kuncinya. Baru penulis menyadari bahwa seorang Eka Putra itu sosok yang mengalir apa adanya dalam berpikir, bekerja dan memiliki empati yang luar biasa, sosok yang sederhana, humble dan humanis. Jadi, menurut penulis wajar kalau mereka yang tidak suka dengan gaya kepemimpinan Eka Putra ketar ketir dengan RASA itu. Penulis pernah mendengar kalimat dari Eka Putra ” kita selalu meng”wong”kan mereka”, yang mana dimaksud secara harfiah penulis menangkap bahwa maknanya Eka Putra selalu menganggap wong (orang) terhadap siapapun. Artinya, sangat menghormati siapapun dalam kesehariannya, itu yang penulis tangkap maksud dari kalimat tersebut. Lalu, apa kelemahan Eka Putra, sejauh ini yang penulis lihat dan rasakan, sosok Bupati ini tidak bisa mendengar keluhan dari masyarakat yang membutuhkankannya. Setidaknya, dalam kesehariannya, walau tidak sepenuhnya bisa selalu membantu masyarakat namun ketika mendengar laporan segera bereaksi. Bahkan ada beberapa agenda yang sudah tersusun harus berubah seketika saat ada yang lebih membutuhkannya.
Heeemmm…Bupati rasa Presiden kali ya …toh yang namanya kontroversi, ketidak senangan dan provokasi yang selalu di hembuskan baik itu oknum, kelompok atau apapun namanya yang tidak suka dengan gaya kepemimpinan Eka Putra tetap berkibar dengan tingginya untuk mencari celah menjatuhkan rasa yang di miliki Eka Putra. Namun justru itu semakin menguatkan rating dan pamor Eka Putra sebagai bupati yang hebat.
Waduh…boleh di katakan blunder atau salah strategi dari pihak lawan, allahualam….penulis hanya bisa menduga.

BACA JUGA :  Kenang Jasa Pahlawan Revolusi Dalam Gerakan 30 S-PKI, Pemkab Tanah Datar Gelar Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila

PETARUNG

Selain rasa, ternyata Eka Putra memiliki mental petarung yang tidak bisa di anggap sebelah mata. Eka Putra seorang petarung yang ulung. Malang melintang di dunia politik menjadikan dirinya seorang fighter yang di segani lawan. Itu terbukti seberapa kuat tekanan politik dari lawan politik ambyar dengan strategi yang jitu dari seorang Eka Putra.
Saat ini, hanya mengandalkan rasa, strategi dan mental petarungnya, mampu membuat goyah oknum, sekelompok orang dan lawan politiknya berpikir ulang untuk menjatuhkannya. Menurut penulis, untuk mengimbangi dari apa yang di miliki oleh sosok Bupati Tanah Datar ini, lawannya harus minimal seimbang dalam berpikir, mental petarungnya bahkan kecerdasan dalam strategi, kalau bisa melebihi Eka Putra baru bisa mengalahkannya, namun kalau masih di bawah standar Eka Putra, mending mundur dan atur ulang strategi yang matang untuk fight dengan Eka Putra.
Heeemmmm….sadis kedengarannya, terlalu berlebihan di anggapnya ya…
Iya, memang seperti itu kondisi politik yang ada saat ini, dan menurut penulis, itu kenyataan yang terjadi saat ini di lapangan. Penulis berpikir bahwa mungkin sosok Eka putra ini tiap harinya mengkonsumsi pil sabar, yang menurut penulis dalam kesehariannya memimpin Tanah Datar tidak pernah terlihat sedikitpun raut wajah Eka Putra kelihatan gusar, resah apalagi marah.
Dan itu sekali lagi penulis rasakan saat mengikuti kegiatan Bupati saat kunjungan ke lapangan. Eka Putra selalu menjemput aspirasi langsung ke masyarakat melalui kegiatan Kopi Sakarek ( Komunikasi Pimpinan Sacaro Dakek dan Arek) yang merupakan keakraban antara pimpinan dan stafnya.
Jujur, ini merupakan nilai tersendiri bagi penulis dalam menilai karakter seorang Eka Putra. Toh kalau ada yang tidak senang dan tidak terima dengan apa yang sudah penulis uraikan, itu hanya sebagian mereka yang merasa terancam dengan tulisan penulis, padahal apa yang penulis tulis saat ini hanya berupa kesaksian dalam keseharian Eka Putra.

Tinggalkan Balasan