Galanggang Arang Pita Bunga: Perayaan Budaya di Jalur Kereta Api

259

Padangexpo.com, Tanah Datar -Perayaan warisan budaya oleh anak nagari Pitalah dan Bungo Tanjung akan mewarnai Penguatan Ekosistem Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS). Perayaan ini merupakan rangkaian kegiatan Galanggang Arang: Anak Nagari Merayakan Warisan Dunia, yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek, yang diawali dengan peluncuran (kick off) program di Padang 19 Oktober 2023 lalu.

WTBOS adalah salah satu Warisan Dunia dari Indonesia, yang telah ditetapkan UNESCO pada 6 Juli 2019, karena dianggap memiliki sejarah dan ilmu pengetahuan yang sangat penting bagi peradaban pada masa itu. WTBOS itu sendiri meliputi tiga zona utama. Zona A merupakan kawasan industri tambang batubara yang terletak di Kota Sawahlunto. Zona B merupakan rangkaian jalur kereta api yang melewati Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang. Sedangkan Zona C meliputi kawasan penampungan batubara di pelabuhan Teluk Bayur yang disebut Silo Gunung.

Pasar Pita Bunga

Pasar Pita Bunga adalah nama yang diberikan kepada sebuah pasar syarikat yang dimiliki bersama oleh dua nagari, yatu nagari Pitalah dan Bungo Tanjuang. Pasar yang dibelah oleh jalur kereta api tersebut memiliki sebuah stasiun kecil yang tidak lagi berfungsi. Meskipun tidak termasuk situs yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan dunia, namun Pasar Pita Bunga ini memiliki arti penting bagi kehidupan kebudayaan Minangkabau. Dari sejumlah peninggalan yang ditemukan, nagari ini pernah menjadi kantong produksi tenun songket dengan kualitas yang sangat baik. Songket Pitalah memiliki corak dan karakter yang spesifik.

Selain pernah memiliki tradisi tenun songket, dari Pasar Pita Bunga ini juga berkembang kuliner dengan gastronomi yang menarik yang disebut Katupek Pitalah. Katupek (ketupat) ini telah dapat dinikmati di berbagai pelosok tanah air karena memiliki rasa yang sesuai dengan selera banyak orang Minangkabau. Setiap hari Minggu yang merupakan hari pasar, di lokasi ini ditemukan sejumlah pedagang tradisional Katupek Pitalah. Penyajiannya cukup unik, sambal atau sayurnya yang terbuat rebung dan buah nangka muda, dimasak dan disajikan langsung dalam periuk belanga dari tanah liat, sedangkan ketupatnya sendiri tetap dimasak dalam anyaman daun pohon kelapa.

BACA JUGA :  Eka Putra : Tingkatkan Sinergi Demi Tanah Datar Lebih Baik

Rangkaian Kegiatan

Galanggang Arang di Pasar Pita Bunga merupakan titik kedua setelah peluncuran program Penguatan Ekosistem WTBOS. Titik pertama adalah stasiun kereta api Padang Panjang. Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan cukup beragam dan hampir seratus persen merupakan anak nagari setempat. Perayaan ini dimulai sore ini tanggal 17 November 2023, dengan sebuah prosesi adat yang terdiri dari penghulu dan bundo kanduang dari kedua nagari, ditambah dengan pembawa dulang jamba serta pengiring dari anak kemenakan semua penghulu.

Prosesi penyambutan dilaksanakan melalui tradisi setempat, yang disebut dengan silek galombang dua baleh, yang diperkaya dengan pertunjukan tarian, yang ditampilkan anak nagari Pitalah. Prosesi ini akan berlanjut dengan pengukuhan pengurus lembaga kerapatan adat setempat, dan diakhiri dengan pertunjukan seni budaya anak nagari dari Bungo Tanjung. Prosesi adat ini akan berakhir dengan makan bajamba yang dilaksanakan secara adat, setelah itu baru pembukaan secara resmi Galanggang Arang Pita Bunga. Menurut rencana, acara ini akan dibuka oleh Bupati Tanah Datar, dan dilanjutkan dengan Pidato Adat Alek Nagari oleh Musra Dahrizal (Mak Katik).

Sedangkan pertunjukan seni budaya anak nagari akan dimulai dengan menampilkan repertoar musik perkusi yang dikenal dengan Talempong Pitalah. Kemudian dilanjutkan pertunjukan kolaboratif antara siswi sekolah menengah pertama (MTsN/M) dari dua nagari ini, dengan musisi dan penari-penari dari ISI Padang Panjang.

Hari kedua, Sabtu 18 November 2023, sejumlah rangkaian kegiatan juga telah disiapkan. Dimulai pukul 10 pagi dengan menggelar Dialog Warisan Budaya bertemakan Penguatan Adat Selingkar Nagari dalam Era Globalisasi, dengan narasumber antropolog dari Universitas Andalas Prof. Dr. res zos. Nusyirwan Effendi serta A. Dt. Andomo, Ketua Kerapatan Adat Alam Minangkabau Tanah Datar. Siang sampai sore, akan digelar Peragaan Pakaian Adat langgam Pitalah Bungo Tanjuang, yang dikemas dalam sejumlah upacara adat setempat. Peragaan pakaian adat ini akan digelar di sepanjang rel kereta api yang melintasi Pasar Pita Bunga.

BACA JUGA :  Luar Biasa! Meski Ditengah Bencana, TMMD ke-120 Berjalan Sukses

Pada sore ini juga akan ditampilkan hasil pendidikan adat dan budaya yang dilakukan KAN Pitalah pada SMPN Batipuah di Pitalah. Malamnya akan ditampilkan kreasi seni budaya dari MTsN 12 Pitalah Tanah Datar, MTsM Bungo Tanjuang, dan malamnya dilanjutkan dengan pertunjukan saluang klasik.

Menurut Edy Utama, selaku kurator dan penanggungjawab dari Galanggang Arang Pita Bunga-Tanah Datar, dipilihnya lokus kegiatan Penguatan Ekosistem WTBOS dilokasi ini, merupakan sebuah upaya untuk mendorong kembali bangkitnya berbagai aktivitas sosial budaya, sosial ekonomi masyarakat setempat.

“Ke depan kita berharap tradisi songket Pitalah yang begitu berkualitas dapat direvitalisasi, dan Pasar Pita Bunga dapat berkembang menjadi pasar kuliner tradisional yang diminati banyak orang. Di samping itu, yang terpenting adalah bangkitnya kesadaran anak nagari untuk merawat dan melestarikan berbagai tradisi budayanya, termasuk Warisan Tambang Batubara yang melintasi kedua nagari tersebut,” tutup Edy. (Penulis: Tim Ditjen Kebudayaan/Dwi)