Skip to content
-
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Padang Expo Padang Expo

Tegas dan Santun Memberikan Informasi

Padang Expo Padang Expo

Tegas dan Santun Memberikan Informasi

  • Beranda
  • Daerah
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Nasional
  • Kab/Kota
    • Agam
    • Pemko Bukittinggi
    • Kab. Solok
    • Kota Solok
    • Limapuluh Kota
    • Padang
    • Padang Panjang
    • Payakumbuh
    • Sijunjung
    • Solok Selatan
    • Tanah Datar
  • Beranda
  • Daerah
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Nasional
  • Kab/Kota
    • Agam
    • Pemko Bukittinggi
    • Kab. Solok
    • Kota Solok
    • Limapuluh Kota
    • Padang
    • Padang Panjang
    • Payakumbuh
    • Sijunjung
    • Solok Selatan
    • Tanah Datar
Close

Search

Home/Headline News/Senja Terakhir Bang Ojol, Selamat Jalan Pejuang Rupiah
Headline News

Senja Terakhir Bang Ojol, Selamat Jalan Pejuang Rupiah

By Pemred : Dody S
29/08/2025

Padang Expo

Jakarta sore itu berwarna jingga, bercampur debu dan riuh suara klakson. Di sebuah rumah kontrakan sederhana di Jatipulo, seorang pemuda baru saja menunaikan salat Ashar. Namanya Affan Kurniawan, 21 tahun, anak bungsu dari seorang ibu tunggal yang sudah lama ditinggal suami.

“Fan, makan dulu nak. Jangan buru-buru keluar,” suara sang ibu lembut memanggil dari dapur.

Affan hanya tersenyum kecil. “Nanti ya, Bu. Affan cuma sebentar keluar. Ada orderan dekat-dekat sini.”

Kalimat itu terdengar biasa, percakapan harian antara ibu dan anak. Namun siapa sangka, itulah percakapan terakhir mereka.

Hidup yang Dikebut Sejak Muda

Sejak ayahnya wafat, Affan sudah terbiasa menanggung beban keluarga. Ia menunda banyak mimpinya demi bisa membantu ibunya dan nenek yang sakit-sakitan. Jaket ojol hijau yang sudah pudar adalah saksi bagaimana ia berkeliling jalanan Jakarta, dari pagi hingga malam, demi sesuap nasi.

“Anaknya nggak pernah ngeluh. Selalu bilang, ‘yang penting Ibu nggak usah pusing soal makan’,” kenang seorang tetangganya.

Motor bebek tua yang setia menemaninya pun tak pernah benar-benar sehat. Tapi bagi Affan, itu cukup. Baginya, setiap kilometer adalah rezeki.

Senja yang Menghentikan Waktu

Senja itu, 21 tahun hidupnya berhenti di tengah riuh Jakarta yang gelisah.

Saat melintas dekat Gedung DPR/MPR, jalanan penuh demonstran. Asap, teriakan, dan suara peluit bercampur jadi satu. Affan bukan bagian dari massa. Ia hanya seorang pengantar rezeki, yang kebetulan harus mencari jalan alternatif.

Namun takdir bekerja dengan cara yang tragis. Motornya oleng di jalan basah, membuat tubuhnya terpelanting. Ia berusaha bangkit, tapi luka membuat langkahnya goyah.

Lalu, datanglah deru mesin baja: sebuah rantis Brimob melaju cepat. Massa berteriak memperingatkan, tapi waktu terlalu sempit. Affan hanya sempat berbisik, “Ya Allah, jaga Ibu…” sebelum tubuhnya dilibas roda raksasa itu.

BACA JUGA :  Sambut HUT RI ke-80, Pemerintah Tetapkan 18 Agustus 2025 Jadi Cuti Bersama

Doa yang Tak Sempat Tersampaikan

Rekan-rekan ojol segera mengangkat tubuhnya, membawanya ke rumah sakit. Mereka berharap masih ada mukjizat. Namun di lorong putih yang dingin, napas Affan terhenti. Senyumnya membeku, meninggalkan duka panjang.

Di rumah duka, ibunya memeluk erat tubuh anak bungsunya yang terbujur kaku. Tangisnya pecah:

“Fan… kau belum sempat makan. Kau belum sempat pulang…”

Sahabat-sahabat sesama ojol berdiri dengan mata sembab. Mereka tahu, bukan hanya seorang teman yang hilang, tapi juga sebuah teladan sederhana: anak muda pekerja keras yang tak pernah menyerah.

Cahaya yang Padam, Kenangan yang Abadi

Jakarta malam itu masih sibuk. Asap demo mengepul, lampu jalan berkelip, dan suara kendaraan tak berhenti. Namun di sudut kota, satu cahaya padam untuk selamanya: cahaya seorang anak bernama Affan Kurniawan.

Ia pergi tanpa sempat menunaikan niat sederhana: membelikan kursi roda untuk neneknya.

Kini, bagi ibunya, setiap senja adalah pengingat. Bahwa pernah ada seorang anak yang berlari terlalu cepat untuk hidup, lalu berhenti mendadak di tengah jalan.

Bagi rekan-rekan ojol, Affan adalah pahlawan tak bernama—seorang pengingat bahwa di balik helm dan jaket hijau, ada wajah-wajah penuh mimpi yang tak kalah mulia dari siapa pun.

Mungkin, di langit sana, Affan kini sedang mengantarkan pesanan terakhirnya: sebuah doa agar ibunya tetap kuat, dan agar negeri ini tak lagi memakan anak-anaknya sendiri. (mond/red)

Views: 799
Author

Pemred : Dody S

Follow Me
Other Articles
Previous

Padang Panjang Kembali Bersinar, Hendri Arnis Boyong Dua Penghargaan Nasional

Next

Imbas Ojol Tewas Dilindas Brimob, Presiden Prabowo : Usut Tuntas Insiden Demonstrasi yang Melibatkan Aparat

REDAKSI

  • REDAKSI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • SOP PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • KODE ETIK INTERNAL
  • VISI & MISI
  • TARIF IKLAN

POPULER

  • REDAKSI (5,184)
  • Amphibi Kawal Laporan Masyarakat Dalam Penanganan TPS Ilegal Serang Baru (4,762)
  • Penerapan Life Saving Rules di Lingkungan Kerja MIGAS (4,452)

TERBARU

  • Dijemput dari Pekanbaru untuk Diedarkan di Payakumbuh, Dua Pria Diciduk dengan 2,2 Kg Ganja dan Sabu
  • Tekan Pengangguran, Polres Payakumbuh Gandeng BLK: POLIRAN Jadi Jembatan Warga Menuju Dunia Kerja
  • Kapolres Payakumbuh Turun ke Warung Warga, Bangun Komunikasi Tanpa Sekat Demi Jaga Kamtibmas
  • Kombinasi Warna Cat Tembok yang Bagus agar Interior Rumah Terasa Lebih Luas
Copyright 2026 — Padang Expo