Motif Ukiran Tradisional Minangkabau Pada Istano Basa Pagaruyung dan Nilai Yang Terkandung di Dalamnya
Penulis: Anggit Dwi Prayoga
Semua motif ukiran tradisional Minangkabau bersumber dari lingkungan alam, baik yang berasal dari nama tumbuh-tumbuhan, binatang, nama tokoh atau benda lainnya yang sebagian memiliki makna yang tersirat dalam kata-kata adatnya disamping sebagai hiasan dekoratif. Begitu juga dengan motif ukiran yang melekat pada dinding Istano Basa Pagaruyung, di antaranya:
- Pucuak Rabuang
Pucuak Rabuang ( pucuk bambu) yaitu sejenis bambu muda yang masih kuncup belum memiliki daun. Bambu yangasih muda ini di sebut rabuang yang dapat di jadikan bahan makanan atau sayur yang di gulai dengan daging. Di Minangkabau gulai daging dengan rebung ini termasuk makanan adat yang sering di sajikan pada waktu upacara adat.
Motif pucuak rabuang merupakan anjuran kepada semua orang untuk dapat berguna seumur hidup, sebagai mana bunyi pepatah adat Minangkabau, ” ketek baguno gadang tapakai”. Bambu yang muda di sebut rabuang dapat dijadikan bahan makanan sedangkan bambu yang tua dapat digunakan sebagai bahan bangunan atau peralatan rumah tangga.
Motif ini melambangkan sesuatu yang dinamis, memiliki cita-cita yang tinggi serta berguna bagi masyarakat. Motif pucuak rabuang terdiri atas beberapa bentuk variasi, ada sebagai pengisi bidang besar, dan bidang kecil yang juga banyak di terapkan pada benda lainnya seperti tiang bangunan dan tongkat.
- Si Kambang Manih
Si Kambang Manih adalah di umpamakan pada bunga yang sedang mekar yang kelihatan sangat bagus. Motif ini pada rumah gadang terdapat pada dinding tepi atau papan banyak dan jendela. Dan juga termasuk motif yang banyak variasinya, dan merupakan motif pengisi bidang besar.
- Siriah Gadang
Siriah (sirih) adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang merambat yang daunnya dapat di makan dilengkapi dengan kapur sirih, pinang dan gambir. Sirih merupakan pelengkap secara adat setiap membuka pertemuan adat, penyambutan tamu yang di suguhi dengan carano. Motif siriah gadang ini melambangkan suatu kegembiraan, persahabatan dan persatuan. Siriah gadang merupakan sebutan untuk suatu helat besar yang dilaksanakan 7 hari 7 malam yang di sertai dengan berbagai macam kesenian rakyat seperti randai, tari, talempong, silat dan lain-lain.
- Bada Mudiak
Bada adalah sejenis ikan kecil atau teri. Bada Mudiak adalah ikan teri yang menghadap ke hulu sungai. Ikan teri tersebut bila kita perhatikan kehidupannya yang bergerombolan atau berkelompok yang menghadap ke hulu sungai dalam suatu barisan yang rapi dan teratur. Apabila seekor terkejut dan lari ke hulu/depan maka yang lainnya pun mengikutinya. Dalam kata adatnya adalah:
Bak bada sabondong mudiak, bak punai tabang bakawan.
Motif ini menggambarkan kehidupan masyarakat yang teratur, selalu seiya sekata, sehilir semudik dan bersatu/kompak sehingga dapat mewujudkan kemajuan yang menjadi tujuan hidup dalam keluarga dan masyarakat.
- Itiak Pulang Patang
Itiak (itik) sejenis unggas yang banyak di pelihara orang dan hidup berkelompok. Itiak pulang patang menggambarkan barisan itik berjalan melalui pematang sawah menuju kandangnya. Kalau kita lihat segerombolan itik berjalan maka ia akan menurut induk rombongannya, apabila ada di antara mereka yang jatuh, maka yang lain pun akan menurut, dalam kata adat disebutkan bak itiak jatuah ka tabiang ( seperti itik jatuh ke tebing). Motif ini melambangkan kesepakatan, seiya sekata dan persatuan yang kokoh.
- Jalo Taserak
Jalo atau jala adalah sejenis alat penangkap binatang di air yang terbuat dari rajutan benang, boasanya di gunakan untuk menangkap ikan. Ukiran motif jalo taserak ini melambangkan adanya garis pemisah antara yang baik dan yang buruk yang perlu kita ketahui dalam kehidupan. Apabila kita mengetahui atau dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dan tidak melanggar norma adat dan agama, maka akan selamatlah kita dalam hidup bermasyarakat.
Jalo Taserak melambangkan sistem pemeliharaan Datuk Parpatih Nan Sabatang dalam proses mengadili seseorang yang melanggar hukum dengan cara mengumpulkan data dan kemudian di pilah-pilah hingga akhirnya di ketahui siapa sebenarnya yang salah. Jalo Taserak termasuk juga motif pengisi bidang besar.
- Tatandu Manyasok Bungo jo Buah Pinang-pinang
Tatandu adalah sejenis ulat daun berwarna hijau serta memiliki dua antena di kepalanya, sedangkan buah pinang adalah sejenis kelengkapan makan sirih. Kedua benda ini dipadukan dalam sebuah motif ukiran yang bernama tatandu manyasok bungo jo buah pinang-pinang. Motif ini melambangkan kesuburan dan cita-cita.
- Lumuik Anyuik
Lumuik (lumut) adalah sejenis tumbuhan yang hidup di air dam biasanya bergantung pada lain seperti pada batu atau kayu. Apabila lumut ini lepas dari tempat bergantungnya, maka ia akan hanyut di bawa arus air yang mengalir, seperti kata adatnya, nan bak lumuik anyuik, tampek bagantuang indak ado, urang mamacik indak amuah, ( seperti lumut hanyut, tidak ada tempat bergantung, orang memegang pun tidak ada).
Motif ukiran lumuik anyuik ini menggambarkan kehidupan seseorang yang tidak di sukai oleh masyarakat lingkungannya yang biasanya di kiaskan pada orang yang durhaka, melanggar norma hukum, berbuat salah sehingga di kucilkan oleh masyarakat. Tidak ada yang mau menolongnya. Motif ini merupakan peringatan kepada masyarakat untuk tidak berbuat yang bertentangan dengan norma yang berlaku. Pengertian lain dari lumuik anyuik adalah orang yang mudah menyesuaikan diri dimana ia berada. Terapi pengertian ini memberikan kesan negatif yaitu orang yang tidak berpendirian. Orang yang mudah menyesuaikan diri dengan tidak berpendirian akan mudah di pengaruhi oleh orang lain dan menjadi permainan bagi orang lain. Motif ini pengisi bidang besar pada rumah gadang.
Narasumber: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan
