Seni Ukir Tradisional Minangkabau, Bada Mudiak Lambang Kerukunan Hidup Masyarakat Minangkabau
1 min read

Seni Ukir Tradisional Minangkabau, Bada Mudiak Lambang Kerukunan Hidup Masyarakat Minangkabau

| padangexpo.com (Tanah Datar)

Seni ukir bagi masyarakat Minangkabau merupakan gambaran dari kehidupan masyarakat yang digoreskan dalam bentuk ukiran pada suatu bidang yang dapat kita temukan di Museum Terbuka Istana Pagaruyung.

Dinding museum ini penuh diisi dengan ukiran dan pada umumnya bersumber kepada falsafah masyarakat Minangkabau yaitu, “Alam Takambang Jadi Guru” yang maksudnya adalah alam yang luas dapat kita jadikan guru atau pelajaran.

Pada dasarnya tidak banyak literatur yang membahas mengenai ukiran Minang secara utuh. Sebagian besar hanya membahas bagian umumnya saja dan tidak mencakup hubungan ukiran tersebut dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat Minangkabau.

Kali ini ,penulis mencoba menelaah tentang salah satu motif ukiran yang ada di Museum Istana Pagaruyung yaitu, “Bada Mudiak “. Bada Mudiak terletak pada jendela museum. Atau lebih tepatnya papan kecil di pinggiran jendela.

Bada adalah ikan-ikan kecil dan Mudiak maksudnya kearah mudik (hulu). Kehidupan ikan ikan kecil yang bergerak mudik kehulu menyongsong arus yang jernih, hidup seiring sejalan dalam satu arah tanpa harus saling dahulu mendahului dan tanpa saling sikut-menyikut sesama mereka.

Seperti pepatah yang mengatakan: Elok susun Bada Mudiak,menyongsong ayia samo sakato, arah bairiang samo saraso, indak saikua nan manyalo, saiyo sakato bakayuah mudiak, tuah diateh nan sakato, cilako kito basilang.

Falsafah Bada Mudiak merupakan konsep kerukunan yang baik untuk diteladani dalam hidup bermasyarakat.

Seiya sekata, satu arah dan dan satu tujuan. Kehidupan yang bertolak belakang dengan falsafah Bada Mudiak atau yang berlainan arah dan tujuan tidak akan mendatangkan ketentraman, “Cilako Kito Basilang “.(dwi)

Narasumber: Dinas Parpora Tanah Datar

BACA JUGA :  Penandatanganan LoI di Istano Basa Pagaruyung, Ini Kata Bupati Tanah Datar