CONNFEST 2026 Chapter Surakarta Perkuat Literasi Digital, Dukung Semangat Presiden Prabowo Melawan “Serakahnomics”
Surakarta — Gelombang informasi yang bergerak cepat melalui media sosial membuat kemampuan masyarakat untuk membaca, memilah, dan memverifikasi informasi menjadi semakin penting. Semangat tersebut mengemuka dalam Teras Literasi CONNFEST 2026 Chapter Surakarta, yang digelar di Rumah Banjarsari, Surakarta, pada 12–13 Agustus 2026, dengan membawa pesan penguatan literasi digital sebagai bagian dari upaya membangun generasi muda yang kritis, kreatif, dan berpihak pada kepentingan publik.
Kegiatan ini sekaligus menemukan relevansinya dengan narasi “serakahnomics” yang kembali ramai diperbincangkan di ruang digital. Istilah yang diperkenalkan Presiden Prabowo Subianto tersebut menggambarkan praktik ekonomi yang terlalu mengutamakan keuntungan tanpa mempertimbangkan kepentingan sosial dan kesejahteraan rakyat. Presiden pertama kali menyampaikan istilah tersebut dalam peluncuran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Klaten pada 21 Juli 2025 dan menegaskan pentingnya menempatkan kepentingan bangsa dan rakyat di atas kepentingan kelompok. (Sekretariat Nasional)
Bagi CONNFEST 2026 Chapter Surakarta, semangat melawan serakahnomics tidak hanya relevan dalam aktivitas ekonomi, tetapi juga dapat menjadi refleksi dalam menghadapi ekosistem informasi digital. Ruang digital dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, kreativitas, pemberdayaan ekonomi dan partisipasi publik, namun masyarakat juga dituntut semakin kritis menghadapi informasi yang menyesatkan, manipulatif, provokatif, maupun konten yang dibuat semata-mata mengejar perhatian tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat.
Karena itu, literasi digital menjadi salah satu benteng masyarakat menghadapi praktik-praktik yang mengeksploitasi informasi untuk kepentingan tertentu. Kemampuan memeriksa sumber, memahami konteks, membedakan fakta dan opini, mengenali manipulasi visual maupun kecerdasan buatan, serta tidak terburu-buru menyebarkan informasi menjadi keterampilan kewargaan yang semakin penting.
Ketua Pelaksana CONNFEST 2026 Chapter Surakarta, Evantio Yudhistira, menekankan bahwa literasi saat ini tidak cukup dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Di tengah banjir informasi dan perkembangan kecerdasan buatan, generasi muda perlu memiliki kemampuan “membaca zaman”: memahami bagaimana sebuah informasi diproduksi, siapa yang berkepentingan terhadap sebuah narasi, bagaimana informasi disebarkan, serta apa dampaknya bagi masyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan Presiden Prabowo yang menempatkan kepentingan rakyat sebagai orientasi utama dalam menghadapi serakahnomics. Pemerintah juga pernah menegaskan bahwa teknologi, laboratorium mutu, hingga kecerdasan buatan dapat digunakan untuk membantu mendeteksi praktik-praktik curang, khususnya dalam tata kelola dan distribusi pangan. (Sekretariat Nasional)
Dalam konteks yang lebih luas, melawan serakahnomics membutuhkan masyarakat yang memiliki daya kritis. Sebab praktik yang merugikan kepentingan publik tidak selalu hadir dalam bentuk transaksi ekonomi yang terlihat secara langsung. Di era digital, kepentingan ekonomi, kekuasaan informasi, algoritma, popularitas, dan persepsi publik dapat saling berkelindan. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kapasitas untuk memahami informasi sebelum mengambil kesimpulan ataupun ikut menyebarkannya.
Dari “In This Economy” ke Literasi Digital
Diskusi dalam Teras Literasi juga mengangkat fenomena ungkapan “in this economy” yang populer di kalangan generasi muda sebagai ekspresi terhadap tekanan ekonomi dan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa percakapan mengenai ekonomi kini tidak hanya terjadi di ruang-ruang formal, melainkan bergerak melalui meme, video pendek, komentar, dan percakapan media sosial.
Namun di balik kreativitas tersebut terdapat tantangan besar. Potongan informasi ekonomi tanpa konteks berpotensi membangun persepsi yang tidak utuh. Sebaliknya, literasi digital yang kuat memungkinkan generasi muda mengubah keresahan menjadi proses mencari informasi, memahami persoalan secara lebih komprehensif, mengembangkan gagasan, dan menghasilkan solusi.
Karena itu, narasi “in this economy” tidak seharusnya berhenti pada pesimisme, tetapi dapat menjadi pintu masuk untuk mengajak generasi muda memahami ekonomi, kebijakan publik, kewirausahaan, teknologi serta persoalan sosial secara lebih kritis.
Literasi sebagai Gerakan Melindungi Kepentingan Publik
Teras Literasi menjadi salah satu rangkaian CONNFEST 2026 Chapter Surakarta yang mempertemukan generasi muda, komunitas, kreator, dan berbagai elemen masyarakat. Kegiatan yang diinisiasi melalui kolaborasi Pioneer Talk, Argia Academy, Bukspace, dan Komunitas Rumah Banjarsari tersebut menghadirkan ruang diskusi, pengembangan kreativitas, jejaring komunitas serta pembelajaran mengenai produksi konten positif.
Mengusung semangat “Connecting Creators, Amplifying Indonesia”, CONNFEST mendorong kreator tidak sekadar mengejar viralitas, tetapi turut mempertimbangkan nilai, akurasi serta dampak sosial dari setiap informasi yang disampaikan kepada publik.
Momentum peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia juga menjadi pengingat bahwa salah satu cita-cita kemerdekaan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Di era digital, cita-cita tersebut memperoleh tantangan baru: mencerdaskan masyarakat di tengah banjir informasi, perkembangan AI, algoritma media sosial, hoaks serta berbagai bentuk manipulasi informasi.
Karena itu, memperkuat literasi digital dapat menjadi bagian dari partisipasi masyarakat untuk mendukung agenda pembangunan nasional sekaligus menjaga kepentingan rakyat dari berbagai praktik yang eksploitatif.
Semangat Presiden Prabowo dalam menentang serakahnomics pada akhirnya tidak hanya dapat dibaca sebagai agenda penataan ekonomi. Pesan tersebut juga dapat menjadi refleksi bagi generasi digital bahwa kemajuan Indonesia membutuhkan keberanian untuk menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan sempit, termasuk dalam memproduksi, mengonsumsi dan menyebarkan informasi.
Dari Surakarta, CONNFEST 2026 mengajak generasi muda mengubah literasi menjadi aksi: lebih kritis membaca informasi, lebih bertanggung jawab menggunakan teknologi, lebih kreatif menghasilkan karya, dan lebih berani menjaga ruang digital agar berpihak pada kepentingan masyarakat.
iterasi yang kuat melahirkan masyarakat yang kritis. Masyarakat yang kritis tidak mudah dimanipulasi. Dan masyarakat yang tidak mudah dimanipulasi merupakan modal penting untuk melawan berbagai bentuk “serakahnomics” serta membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih adil, maju, dan berdaulat. (*/man)