Keistimewaan Istano Basa Pagaruyung

Keistimewaan Istano Basa Pagaruyung

Penulis: Anggit Dwi Prayoga

Istano Basa Pagaruyung adalah merupakan obyek wisata primadona Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Istano Basa Pagaruyung mempunyai 3 lantai, 72 tonggak dan 11 gonjong. Arsitektur bangunan Istano Basa Pagaruyung mempunyai ciri-ciri khusus dibandingkan dengan rumah gadang yang terdapat di Minangkabau. Kekhasan yang dimiliki bangunan ini tersirat dari bentuk fhisik bangunan yang di lengkapi ukiran falsafah dan budaya Minangkabau. Dan juga Istano Basa Pagaruyung mempunyai surau, Taubah Larangan, Rangkiang Patah Sambilan, Tanjung Mamutuih yang masing-masing memiliki arti dan makna tersendiri. Istano Basa Pagaruyung adalah dahulunya bangunan rumah tempat tinggal raja sekaligus tempat raja menjalankan roda pemerintahan, yang di buat khusus berbentuk Rumah Gadang dengan mempedomani istana yang sudah ada sebelumnya.

Dimasa Kerajaan Minangkabau, Istano Basa Pagaruyung ini memainkan peran ganda, sebagai rumah tempat tinggal keluarga kerajaan dan sebagai pusat pemerintahan. Dahulunya, kerajaan Minangkabau ini dipimpin oleh seorang raja yang di kenal dengan gelar Rajo Alam atau Raja Diraja Kerajaan Minangkabau.

Kepemimpinan Rajo Alam dikenal dengan Tali Tigo Sapilin dan pemerintahannya dikenal dengan nama Tungku Tigo Sajarangan.

Rumah Gadang Minangkabau termasuk Istano Basa Pagaruyung di bangun berdasarkan mufakat semua anggota kaum dan atas persetujuan Penghulu Nagari yang di biayai oleh Suku, serta Rah Gadang juga berfungsi sebagai tempat pelaksanaan adat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Rumah Gadang merupakan bukti nyata kemampuan adat dalam mempersatukan kepentingan, inspirasi dan kebutuhan anggota kaum untuk menciptakan iklim dan kehidupan yang damai, adil dan harmonis dibawah penghulu kaum.

Istano Basa Pagaruyung yang sekarang merupakan duplikat dari istano yang dibakar oleh Belanda pada tahun 1804. Dan pada tahun 1976, Istano Basa Pagaruyung dibangun kembali yang lahir dari pemikiran pemerintah daerah dan tokoh-tokoh adat Sumatera Barat dalam rangka melestarikan nilai-nilai adat, seni dan budaya serta sejarah Minangkabau bertempat di Balai Janggo Pagaruyung. (Dari berbagai sumber)

BACA JUGA :  Bupati Ucapkan Terima Kasih, Bantuan Untuk Tanah Datar Terus Mengalir