Skip to content
-
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Padang Expo Padang Expo

Tegas dan Santun Memberikan Informasi

Padang Expo Padang Expo

Tegas dan Santun Memberikan Informasi

  • Beranda
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Nasional
  • Kab/Kota
    • Agam
    • Pemko Bukittinggi
    • Kab. Solok
    • Kota Solok
    • Limapuluh Kota
    • Padang
    • Padang Panjang
    • Padang Pariaman
    • Pariaman
    • Pasaman
    • Payakumbuh
    • Pesisir Selatan
    • Sawahlunto
    • Sijunjung
    • Solok Selatan
    • Tanah Datar
  • Tekno
  • Beranda
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Nasional
  • Kab/Kota
    • Agam
    • Pemko Bukittinggi
    • Kab. Solok
    • Kota Solok
    • Limapuluh Kota
    • Padang
    • Padang Panjang
    • Padang Pariaman
    • Pariaman
    • Pasaman
    • Payakumbuh
    • Pesisir Selatan
    • Sawahlunto
    • Sijunjung
    • Solok Selatan
    • Tanah Datar
  • Tekno
Close

Search

Home/Peristiwa/Polri Geser Paradigma: Bangun Laboratorium Sosial Sains, Cetak Polisi yang Lebih Manusiawi dan Berbasis Ilmu
Peristiwa

Polri Geser Paradigma: Bangun Laboratorium Sosial Sains, Cetak Polisi yang Lebih Manusiawi dan Berbasis Ilmu

By admin@domi
30/03/2026

padangexpo.com // Semarang

Kepolisian Negara Republik Indonesia menandai babak baru transformasi kelembagaan dengan langkah yang tak biasa: membangun cara berpikir baru bagi calon perwiranya. Melalui peletakan batu pertama Laboratorium Sosial Sains Kepolisian di Akademi Kepolisian, Senin (30/3), Polri secara terbuka menggeser paradigma dari pendekatan reaktif menuju kepolisian yang lebih reflektif, proaktif, dan berbasis ilmu pengetahuan.

Groundbreaking yang dipimpin Wakapolri, Dedi Prasetyo, bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan simbol perubahan mendasar dalam cara polisi memahami masyarakat.

“Polisi masa depan tidak boleh hanya mengandalkan intuisi emosional. Setiap tindakan harus berbasis riset dan pemahaman yang mendalam,” tegasnya.

Pernyataan itu menggambarkan arah baru: polisi tidak lagi sekadar hadir saat masalah terjadi, tetapi mampu membaca, mencegah, dan merespons dinamika sosial dengan pendekatan ilmiah dan empati.

Laboratorium Sosial Sains ini dirancang sebagai ruang belajar yang hidup—mengintegrasikan teori akademik dengan realitas masyarakat. Taruna tidak hanya duduk di kelas, tetapi akan “turun” memahami denyut sosial secara langsung. Sebuah pendekatan yang mencoba menjembatani jarak antara institusi kepolisian dan masyarakat yang dilayaninya.

Menurut akademisi Rodiyah Tangwun, konsep laboratorium sosial merupakan metode pembelajaran reflektif yang berakar pada kenyataan, bukan sekadar teori.

“Ini pendekatan yang membentuk cara berpikir kritis dan empatik. Taruna tidak hanya tahu hukum, tetapi memahami manusia di balik persoalan hukum,” ujarnya.

Laboratorium ini mengemban tiga fungsi utama: sebagai ruang belajar berbasis fakta sosial, sebagai standar baru kualitas pendidikan kepolisian yang seimbang antara teori dan praktik, serta sebagai ruang kolaborasi yang melibatkan masyarakat sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Di titik inilah wajah baru Polri mulai dibentuk—bukan hanya profesional secara teknis, tetapi juga matang secara moral dan sosial.

BACA JUGA :  Kendaraan Milik Jurnalis di Pasbar Diduga Ditabrak Dengan Sengaja Oleh Seorang Pria

Polri menargetkan lahirnya perwira dengan kecerdasan holistik: mampu menganalisis, memprediksi, sekaligus memimpin dengan pendekatan yang adaptif dan solutif. Integritas, empati, dan kemampuan membaca situasi sosial menjadi kompetensi inti yang ingin ditanamkan.

Langkah ini juga menegaskan bahwa reformasi Polri tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi kunci. Sejumlah akademisi dan institusi pendidikan tinggi dilibatkan untuk memperkuat basis keilmuan kepolisian, sekaligus mendorong lahirnya konsep knowledge-based policing—kepolisian yang bertumpu pada riset dan pengetahuan.

Di tengah tuntutan publik yang semakin kritis, kehadiran Laboratorium Sosial Sains menjadi jawaban atas satu pertanyaan mendasar: bagaimana menghadirkan polisi yang tidak hanya tegas, tetapi juga adil dan manusiawi.

Dari Semarang, pesan itu ditegaskan—bahwa masa depan kepolisian tidak hanya dibangun dengan kewenangan, tetapi dengan pemahaman. Dan dari sanalah kepercayaan publik perlahan bisa dipulihkan(Ken)

Post Views: 192
Author

admin@domi

Follow Me
Other Articles
Previous

Payakumbuh Diganjar Penghargaan, Zulmaeta Tegaskan Posbankum Tak Boleh Jadi Formalitas: Harus Hadir sebagai “Mesin Keadilan” Rakyat

Next

DPRD Padang Panjang Perkuat Pengawasan LKPj 2025, Dorong Pemerintahan Lebih Akuntabel dan Berorientasi Publik

REDAKSI

  • REDAKSI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • SOP PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • KODE ETIK INTERNAL
  • VISI & MISI
  • TARIF IKLAN

POPULER

  • Agam68 Link Login Alternatif (35,796)
  • Seni Ukir Tradisional Minangkabau, Bada Mudiak Lambang Kerukunan Hidup Masyarakat Minangkabau (6,285)
  • Motif Ukiran Tradisional Minangkabau Pada Istano Basa Pagaruyung dan Nilai Yang Terkandung di Dalamnya (5,565)

TERBARU

  • Meskipun Dalam Kondisi Tanggap Darurat, Bupati Jon Pandu Hadiri HUT ke 81 TNI
  • Dukungan Terus Mengalir, Universitas Muhammad Nasir Salurkan Bantuan Bencana Bagi Korban Galodo Solok
  • Raysa Razelin Pecahkan Telur Emas Renang Payakumbuh di Porprov Sumbar 2026
  • Senam Payakumbuh Tambah Dua Emas, Target Lima Emas Makin Terbuka
Copyright 2026 — Padang Expo